Karhutla Gunung Bromo Meluas, Warga Padamkan Api dengan Cara Tradisional

  • 05 Agt 2026 14:53 WIB
  •  Malang

RRI. CO. ID, Probolinggo – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan konservasi Gunung Bromo, Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, terus meluas hingga Rabu (5/8/2026). Di tengah sulitnya akses sumber air, warga bersama personel TNI, Polri, Balai Besar TNBTS, dan relawan berjibaku memadamkan kobaran api menggunakan cara tradisional.

Berdasarkan data di lapangan, luas lahan yang terbakar diperkirakan telah mencapai hampir 51 hektare. Api yang sebelumnya berasal dari kawasan Bantengan di wilayah Malang kini telah merembet hingga kawasan Kabupaten Probolinggo.

Salah seorang warga Ranupane, Ahmad Subahan, mengatakan sejak malam sebelumnya dirinya bersama warga lainnya terus berupaya memadamkan api menggunakan dahan pohon yang masih hijau. Cara tersebut dilakukan dengan memukul kobaran api yang membakar ilalang atau dikenal masyarakat setempat dengan istilah "gebyok".

"Kami berusaha memadamkan api dengan cara tradisional, menggunakan dahan pohon untuk dipukul-pukulkan ke api yang membakar ilalang, atau istilahnya digebyok," ujar Subahan, Rabu (5/8/2026).

Menurutnya, metode tersebut terpaksa digunakan karena sumber air berada cukup jauh dari lokasi kebakaran sehingga pemadaman menggunakan air sulit dilakukan. Meski sederhana, cara itu dinilai cukup efektif untuk menghambat laju api di kawasan padang savana dan ilalang kering.

Subahan menjelaskan, kobaran api yang semula membakar kawasan Bantengan kini telah memasuki wilayah Probolinggo dengan intensitas yang semakin besar. Kondisi tersebut diperparah oleh tiupan angin kencang yang membuat api terus menjalar ke vegetasi kering.

"Sebelumnya api menjalar dari Bantengan, sekarang sudah sampai wilayah Probolinggo dan apinya semakin membesar," katanya.

Ia menambahkan, angin menjadi kendala utama dalam proses pemadaman. Setiap kali api mulai berhasil dikendalikan, embusan angin kembali membawa percikan api ke hamparan ilalang sehingga memicu titik api baru.

Hingga Rabu siang, proses pemadaman masih terus dilakukan secara gabungan oleh warga, relawan, TNI, Polri, serta personel Balai Besar TNBTS. Petugas juga terus berupaya mencegah kobaran api meluas ke kawasan konservasi lain yang memiliki nilai ekologis tinggi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....