Dari Rumah Baca ke Game Digital, RBC Siapkan Generasi Tangguh Hadapi Era AI

  • 23 Jun 2026 17:43 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang - Di tengah derasnya arus teknologi dan kecerdasan buatan (AI), literasi digital tidak lagi sekadar kemampuan menggunakan gawai. Yang lebih penting adalah kemampuan berpikir runtut, memilah informasi, dan beretika di ruang digital. Hal inilah yang menjadi fokus utama Rumah Baca Cerdas (RBC) Ahmad Malik Fajar Institute.

Direktur RBC Ahmad Malik Fajar Institute, Dr. Faizin, M.Pd., mengatakan bahwa tantangan terbesar generasi muda saat ini bukanlah akses terhadap teknologi, melainkan fondasi berpikir yang benar dalam menggunakannya.

Menurutnya, banyak anak-anak yang sudah sangat mahir memainkan gawai dan berbagai aplikasi digital. Namun, keterampilan dasar yang seharusnya menjadi fondasi, seperti mengolah dokumen, memahami informasi, hingga berpikir logis, justru sering terabaikan.

“Anak-anak sekarang pandai menggunakan gadget, tetapi belum tentu terampil menggunakan teknologi secara baik dan benar. Literasi digital itu bukan sekadar tahu cara memakai perangkat, melainkan keterampilan yang dibangun secara bertahap dan runtut,” ujarnya saat dialog Literasi Digital di RRI Malang, Selasa (23/6/2026).

Faizin menilai maraknya hoaks, propaganda, hingga penyalahgunaan teknologi digital tidak bisa dilepaskan dari proses pembelajaran yang tidak terstruktur.

Ia menjelaskan, seseorang yang tidak dibekali pola berpikir sistematis akan lebih mudah menerima dan menyebarkan informasi tanpa melakukan verifikasi terlebih dahulu.

“Kalau input yang diterima acak, maka output-nya juga akan kacau. Karena itu, kami fokus memperbaiki pondasi berpikir sejak usia dini,” katanya.

Pendekatan tersebut menjadi semakin penting di era AI yang memungkinkan siapa saja membuat konten, gambar, maupun informasi yang sulit dibedakan antara fakta dan rekayasa.

Menurutnya, AI bisa menjadi peluang besar bagi generasi muda. Namun tanpa logika berpikir yang kuat, teknologi tersebut justru dapat menjadi bumerang.

Sebagai bentuk inovasi, RBC bekerja sama dengan Let's Play Indonesia mengembangkan game edukasi yang mengajarkan etika, kecakapan hidup, komunikasi, hingga keterampilan berpikir kritis.

Salah satu permainan yang sedang disiapkan adalah “Sang Fajar”, yang memuat berbagai nilai kehidupan dan keterampilan sosial.

Berbeda dengan game pada umumnya, permainan ini dirancang agar anak-anak belajar secara tidak langsung melalui aktivitas yang mereka sukai.

“Kami ingin nilai-nilai itu masuk ke alam sadar mereka saat bermain. Jadi bukan hanya bermain, tetapi juga membangun karakter dan cara berpikir,” jelas Faizin.

Saat ini game tersebut masih dalam tahap evaluasi hasil uji coba dan ditargetkan diluncurkan secara nasional dalam waktu kurang dari satu bulan.

RBC berencana menyediakan game tersebut secara gratis melalui laman resmi lembaga dan kanal YouTube mereka.

Langkah ini dilakukan agar masyarakat dari berbagai daerah dapat memanfaatkannya tanpa hambatan biaya maupun akses.

“Kami ingin siapa pun bisa mengunduh dan menggunakan game ini. Ini bagian dari ikhtiar kami mengurangi kesenjangan akses pendidikan dan literasi,” ungkapnya.

Melalui inovasi tersebut, RBC berharap literasi digital tidak hanya dipahami sebagai kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga menjadi sarana membangun karakter, etika, dan kecakapan hidup generasi muda Indonesia menuju Indonesia Emas 2045.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....