Protes Harga Anjlok, Peternak Bagikan 1 Juta Telur Ayam
- 01 Jun 2026 10:41 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Blitar - Ratusan peternak ayam petelur dari Blitar Raya memilih membagikan sekitar satu juta butir telur kepada masyarakat di depan Kantor Bupati Blitar, Senin (1/6/2026).
Aksi tersebut menjadi simbol protes atas anjloknya harga telur yang dinilai tidak lagi mampu menutup biaya produksi peternak rakyat.
Dengan membawa berbagai poster berisi tuntutan, peternak dari Kabupaten Blitar, Kota Blitar, Kediri, Tulungagung, dan Trenggalek berkumpul menyuarakan kondisi yang mereka alami selama beberapa pekan terakhir. Mereka menilai harga telur yang terus berada di bawah biaya produksi telah mengancam keberlangsungan usaha peternakan rakyat.
Perwakilan peternak, Suyanto, mengatakan, harga telur di kandang saat ini hanya berkisar Rp20.600 hingga Rp21.000 per kilogram. Sementara biaya produksi atau harga pokok produksi (HPP) peternak kecil telah mencapai sekitar Rp23.000 per kilogram.
"Setiap kilogram telur yang kami jual hari ini masih rugi sekitar Rp2.000. Kalau kondisi seperti ini berlangsung lama, peternak kecil yang paling dulu merasakan dampaknya," kata Suyanto, Senin (1/6/2026).
Menurutnya, salah satu penyebab tingginya biaya produksi adalah kenaikan harga pakan yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir. Jika sebelumnya harga pakan masih berada di kisaran Rp370 ribu per sak, kini telah mencapai sekitar Rp420 ribu per sak.
Kenaikan tersebut memberikan tekanan besar bagi peternak, mengingat pakan menjadi komponen biaya terbesar dalam usaha ayam petelur. Sebagian besar pengeluaran harian peternak digunakan untuk memenuhi kebutuhan pakan agar produksi telur tetap stabil.
'Harga pakan naik terus, sementara harga telur justru turun. Kami menjual telur hari ini, uangnya langsung dipakai membeli pakan untuk besok. Jadi ketika harga telur jatuh, kami tidak punya ruang untuk menutup kerugian," ujarnya.
Suyanto menjelaskan, berbeda dengan perusahaan peternakan skala besar yang memiliki cadangan modal dan stok pakan dalam jumlah besar, peternak rakyat sangat bergantung pada perputaran uang harian. Karena itu, gejolak harga telur sangat berpengaruh terhadap kelangsungan usaha mereka.
Melalui aksi pembagian telur gratis, peternak ingin menunjukkan kepada pemerintah dan masyarakat bahwa kondisi yang mereka hadapi saat ini cukup memprihatinkan. Telur yang dibagikan merupakan hasil produksi peternak yang nilainya terus tergerus akibat rendahnya harga jual di pasaran.
Selain menyoroti persoalan harga, peternak juga meminta pemerintah memberikan perlindungan yang lebih kuat terhadap peternak mikro dan kecil. Mereka berharap ada langkah konkret untuk menstabilkan harga telur sekaligus menjaga keseimbangan antara biaya produksi dan harga jual di tingkat peternak.
"Kami tidak meminta harga tinggi. Kami hanya ingin harga yang wajar sehingga peternak masih bisa hidup, membayar pekerja, dan melanjutkan usaha," imbuhnya.
Peternak berharap aspirasi yang mereka sampaikan dapat menjadi bahan pertimbangan pemerintah dalam menyusun kebijakan yang berpihak kepada peternak rakyat, terutama di tengah meningkatnya biaya produksi dan ketidakpastian harga pasar.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....