Cuaca Ekstrem, Tangkapan Nelayan Tamban Malang Menurun

  • 20 Mei 2026 14:50 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang - Nelayan di Pantai Tamban, Desa Tambakrejo Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang, menyebut cuaca ekstrem yang masih terjadi di tengah musim kemarau menyebabkan hasil tangkapan ikan menurun drastis dan berdampak pada kenaikan harga ikan di tingkat nelayan.

Nelayan Pantai Tamban, Budi Hari, mengatakan cuaca ekstrem membuat sebagian nelayan memilih tidak melaut karena gelombang dan angin masih cukup tinggi.

“Kalau harga ikan sekarang agak mahal mas, cuacanya akan terlalu besar esktrem tahun-tahun ini. Jadi kalau harga ikan kecil itu hampir Rp25.000-Rp30.000 per kilo dari nelayan. sebelumnya itu masih murah Rp20.000-Rp15.000 gitu,” ujarnya, Rabu (20/5/2026).

Menurut Budi, kondisi cuaca yang tidak menentu membuat hasil tangkapan ikan terus menurun dibanding tahun-tahun sebelumnya. Ia menyebut hasil tangkapan nelayan kini hanya berkisar dua hingga tiga kuintal, padahal sebelumnya bisa mencapai satu hingga tiga ton dalam sebulan.

“Kita aja tahun-tahun yang lalu itu dalam satu tahun itu tiap bulan itu kadang-kadang bisa sampai 2 ton, 3 ton. Sekarang ini kadang-kadang cuma 2 kuintal, 3 kuintal itu sudah banyak,” katanya.

Ia menjelaskan, hujan yang masih turun pada musim kemarau memengaruhi suhu air laut sehingga ikan sulit mencari makan dan tidak banyak mendekati perairan nelayan.

“Ya sebetulnya ini mulai sudah musim ikan, Mas. Jadi sampai nanti bulan 10. Tapi ini masih hujan, terus angin, terus gitu kan. Jadi air, musim namanya kemarau, ini nggak ada kemarau, masih ada hujan lah,” ucapnya.

Selain faktor cuaca, Budi juga mengeluhkan tingginya biaya operasional melaut, terutama kebutuhan bahan bakar minyak (BBM). Menurutnya, pendapatan nelayan saat ini tidak sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan.

“Kalau harapan nelayan ya kalau bisa ini tujuan satu masalah BBM jangan terlalu mahal, maksudnya ya sekarang pendapatannya terlalu menurun,” katanya.

Budi menuturkan nelayan juga menghadapi kendala dalam pembelian BBM bersubsidi karena harus melalui proses administrasi barcode. Di sisi lain, banyak nelayan yang berutang bahan bakar karena hasil tangkapan tidak mencukupi.

“Kadang-kadang kita bawa 10 jerigen untuk berangkat melaut, namun saat pulang, nggak bisa membayar sama sekali karena nggak dapat ikan,” ujarnya.

Ia berharap pemerintah memberikan perhatian lebih kepada nelayan, terutama terkait bantuan permodalan dan kemudahan akses BBM agar aktivitas melaut tetap berjalan di tengah kondisi cuaca ekstrem.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....