Perajin Kendang Jimbe Blitar Bertahan Ditengah Terdampak Nilai Tukar Rupiah

  • 15 Mei 2026 06:14 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Blitar - Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mulai berdampak pada pelaku usaha kerajinan di Kota Blitar.

Kenaikan harga bahan baku impor membuat biaya produksi meningkat, termasuk bagi perajin kendang jimbe dan rebana di Kelurahan Sentul, Kecamatan Kepanjenkidul.

Meski menghadapi tekanan biaya produksi, para perajin tetap berusaha mempertahankan pasar ekspor yang selama ini menjadi penopang usaha mereka.

Salah satunya M Jefri Firmansyah, perajin kendang jimbe asal Kota Blitar. Ia mengatakan kenaikan nilai dolar membuat harga sejumlah bahan penunjang produksi seperti plastik dan besi ikut melonjak. Kondisi tersebut membuat biaya operasional naik sekitar 20 hingga 30 persen.

"Beberapa konsumen memahami kondisi ini dan setuju penyesuaian harga. Tapi ada juga yang masih menawar dengan harga lama. Kami berusaha menjaga keseimbangan," ujar Jefri, Jumat (15/5/2026).

Kendati demikian, Jefri mengaku belum menaikkan harga secara besar-besaran. Ia memilih menjaga harga tetap kompetitif agar pasar ekspor tidak terganggu.

Produk kendang jimbe buatannya dijual mulai Rp15 ribu hingga jutaan rupiah, tergantung ukuran dan kualitas. Selain kendang jimbe, ia juga memproduksi rebana dengan harga Rp30 ribu hingga Rp500 ribu per unit.

Dalam satu bulan, usaha miliknya mampu memproduksi sekitar 3.000 unit alat musik tradisional. Dari jumlah tersebut, sekitar 200 sampai 300 unit dikirim ke luar negeri, seperti Malaysia, Singapura, dan Amerika Serikat.

"Kami ekspor ke Malaysia, Singapura, dan Amerika. Yang paling rutin tiap bulan ke Malaysia," katanya.

Usaha kerajinan itu telah dirintis keluarganya sejak awal tahun 2000-an. Setelah pandemi Covid-19, Jefri melanjutkan usaha tersebut dan kini mempekerjakan sekitar 20 orang untuk membantu proses produksi hingga pemasaran.

Di tengah kondisi ekonomi global yang belum stabil, para pelaku UMKM memilih bertahan dengan menjaga kualitas produk dan memastikan produksi tetap berjalan.

"Kondisi masih belum stabil, jadi kami fokus menjaga produksi tetap berjalan," pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....