Kurangi Pestisida, Petani Mulai Andalkan Musuh Alami di Lahan Pertanian
- 06 Mei 2026 11:12 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang - Ketergantungan petani terhadap pestisida kimia mulai bergeser seiring berkembangnya pendekatan ramah lingkungan dalam pengendalian hama. Salah satu metode yang kini mulai diterapkan adalah farmscaping, yakni pengelolaan habitat pertanian dengan memanfaatkan tanaman berbunga dan musuh alami hama.
Selama ini, pestisida kerap menjadi solusi instan untuk mengatasi serangan hama. Namun, penggunaan berlebihan justru memicu berbagai persoalan, mulai dari resistensi hama, pencemaran lingkungan, hingga menurunnya populasi serangga penyerbuk.
“Penggunaan pestisida berlebihan dapat merusak keseimbangan ekosistem pertanian dan dalam jangka panjang mengancam produktivitas,” ujar Naufal Wima Al Fahri dalam kajian konservasi ekosistem di Universitas Negeri Malang beberapa waktu lalu.
Data Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) juga menunjukkan penggunaan pestisida meningkat lebih dari dua kali lipat dalam empat dekade terakhir. Kondisi ini berdampak pada penurunan populasi lebah dan serangga penyerbuk yang berperan penting dalam produksi pangan.
Sebagai alternatif, konsep farmscaping hadir dengan memanfaatkan tanaman refugia seperti bunga matahari, kenikir, dan bunga kertas untuk menarik predator alami. Serangga seperti kumbang koksi, laba-laba, dan tawon parasitoid menjadi pengendali hama secara alami di lahan pertanian.
“Farmscaping adalah cara bekerja sama dengan alam, bukan melawannya,” jelas Naufal.
Penerapan metode ini mulai terlihat di berbagai daerah di Jawa Timur. Di Kabupaten Malang, penggunaan tanaman refugia di lahan sawah organik terbukti meningkatkan keberagaman arthropoda yang berfungsi sebagai pengendali hama alami.
Sementara di Kabupaten Pamekasan, petani mengombinasikan tanaman hortikultura dengan tanaman berbunga untuk menciptakan habitat yang mendukung predator dan parasitoid. Hasilnya, pengendalian hama dapat dilakukan tanpa ketergantungan tinggi pada bahan kimia.
Praktik serupa juga dilakukan Kholifah, petani sekaligus Ketua P4S Tani Makmur di Pasuruan. Ia memanfaatkan agens hayati untuk mengendalikan hama di lahannya.
“Kami memanfaatkan musuh alami seperti parasitoid. Tidak semua serangga harus dimusnahkan,” ujarnya.
Menurutnya, pendekatan ini tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga mampu menekan biaya produksi. Melalui kelompok tani yang dipimpinnya, Kholifah juga aktif memberikan pelatihan kepada petani agar mampu mengenali dan memanfaatkan musuh alami.
“Petani perlu memahami bahwa ada serangga yang justru membantu. Jika semuanya dibasmi, ekosistem menjadi tidak seimbang,” tambahnya.
Meski menawarkan banyak keunggulan, penerapan farmscaping masih menghadapi tantangan. Sebagian petani masih mengandalkan pestisida karena dinilai lebih praktis dan memberikan hasil cepat.
Padahal, pendekatan ekologis membutuhkan waktu untuk membangun keseimbangan ekosistem. Namun dalam jangka panjang, metode ini dinilai lebih berkelanjutan dan aman bagi lingkungan.
“Menanam bunga di lahan pertanian bukan sekadar estetika, tetapi investasi untuk masa depan pertanian yang lebih sehat,” kata Naufal.
Ke depan, dukungan pemerintah dinilai penting untuk memperluas penerapan metode ini. Program seperti Gerakan Pertanian Pro-Organik diharapkan dapat mendorong pengurangan penggunaan pestisida kimia.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....