Rektor UWG Malang: Penutupan Prodi Melalui Evaluasi, Bukan Kebijakan Mendadak
- 05 Mei 2026 08:51 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang - Wacana penutupan program studi (prodi) yang dinilai tidak relevan dengan kebutuhan industri sempat mencuat dan menimbulkan beragam tanggapan di kalangan perguruan tinggi.
Rektor Universitas Widya Gama (UWG) Malang, Dr. Anwar, menegaskan bahwa wacana tersebut bukan kebijakan resmi pemerintah. Ia menyebut gagasan tersebut telah diklarifikasi oleh Menteri Pendidikan Tinggi dan tidak akan diterapkan secara langsung.
“Gagasan itu sudah dibantah oleh Pak Menteri, jadi bukan kebijakan yang akan langsung dilakukan,” ujarnya dalam program Dialog Malang Menyapa, Senin (4/5/2026).
Menurutnya, pemerintah selama ini telah memiliki mekanisme dalam pembukaan maupun evaluasi program studi melalui sistem yang berlaku. Evaluasi dilakukan untuk melihat relevansi prodi terhadap kebutuhan dunia kerja serta perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Anwar menilai, penutupan prodi tidak bisa dilakukan secara tiba-tiba karena menyangkut banyak aspek, mulai dari dosen, mahasiswa, hingga sarana pendukung. Oleh karena itu, langkah yang lebih tepat adalah melakukan pengembangan dan penyesuaian program studi.
“Kalau memang tidak layak dan tidak marketable, prodi bisa ditutup oleh perguruan tinggi sendiri melalui kajian mendalam,” katanya.
Ia menambahkan, perguruan tinggi memiliki otonomi dalam mengelola prodi, termasuk melakukan transformasi maupun penutupan berdasarkan hasil evaluasi. Salah satu upaya yang dilakukan UWG adalah membuka prodi baru yang relevan dengan perkembangan zaman.
“Seperti di kami, ada prodi sistem dan teknologi informasi serta bisnis digital untuk mendukung penguatan di bidang digitalisasi,” jelasnya.
Selain membuka prodi baru, UWG juga pernah menutup program Diploma 3 Perbankan setelah melalui kajian menyeluruh terkait prospek dan minat mahasiswa, dengan tetap memastikan keberlanjutan studi mahasiswa serta penyesuaian tenaga pengajar.
Di sisi lain, ia menekankan bahwa prodi lama tetap dapat bertahan jika mampu beradaptasi melalui pembaruan kurikulum. Penyesuaian ini penting agar lulusan memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan industri.
“Prodi tidak boleh stagnan, harus terus beradaptasi agar lulusannya tetap relevan dengan kebutuhan zaman,” tegasnya.
Dengan demikian, perguruan tinggi dituntut lebih adaptif dan visioner dalam mengembangkan program studi agar mampu menjawab tantangan industri sekaligus menjaga kualitas pendidikan tinggi. (Annisa)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....