Tantangan Biaya dan Inovasi Warnai Pertanian Organik
- 17 Apr 2026 06:12 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang - Pengembangan pertanian organik di Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan, terutama dari sisi biaya operasional. Meski ramah lingkungan, sistem organik membutuhkan tenaga kerja lebih intensif dibanding pertanian konvensional.
Founder PT Orgo Organic Farm Indonesia (Gogrin), Jasmito, menyebut biaya tenaga kerja menjadi tantangan utama dalam budidaya organik. Hal ini disebabkan kebutuhan pemantauan lahan yang harus dilakukan hampir setiap hari.
“Kalau di organik itu hampir setiap hari kita harus ke lahan, sehingga biaya tenaga kerja jadi besar,” ujarnya, Kamis (16/4/2026).
Selain itu, risiko gagal panen juga menjadi kendala tersendiri bagi petani organik. Kebutuhan benih yang lebih banyak turut menambah beban biaya produksi.
Menurut Jasmito, pembelian benih dalam jumlah besar bisa menyita biaya yang cukup tinggi. Karena itu, pihaknya mulai mengembangkan benih sendiri untuk menekan pengeluaran.

“Kami mengembangkan benih sendiri untuk keberlanjutan, meskipun tidak diperjualbelikan,” jelasnya.
Di sisi lain, inovasi dalam pertanian organik terus dilakukan untuk meningkatkan efisiensi. Jasmito menyebut konsep organik sebenarnya bukan hal baru, melainkan praktik lama yang kembali diadaptasi di era modern.
Ia mengibaratkan pertanian organik sebagai bagian dari fenomena “postmodern” yang menghidupkan kembali metode tradisional. Namun, dalam penerapannya, tetap dikombinasikan dengan teknologi modern.
Penggunaan screen house menjadi salah satu contoh inovasi yang diterapkan Gogrin. Selain itu, proses pembuatan pupuk organik juga dibantu dengan alat modern untuk mempercepat pengembangbiakan mikroba.
Dengan perpaduan metode tradisional dan teknologi modern, pertanian organik diharapkan semakin berkembang. Inovasi ini juga menjadi kunci untuk menjawab berbagai tantangan dalam sektor pertanian berkelanjutan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....