BMKG: Kemarau Tahun Ini Lebih Cepat

  • 15 Apr 2026 09:19 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang - BMKG memprediksi awal musim kemarau di Jawa Timur maju lebih cepat ke April, seiring pengaruh El Nino lemah dan masuknya angin muson Australia

Ketua Tim Kerja Meteorologi BMKG Juanda, Andrie Wijaya, menjelaskan bahwa El Nino merupakan fenomena iklim periodik yang terjadi setiap tahun dengan tingkat kekuatan yang berbeda-beda.

Menurutnya, El Nino terbagi menjadi tiga kategori, yakni lemah, moderat, dan ekstrem. Untuk tahun ini, kondisi El Nino masih berada pada kategori lemah dengan nilai sekitar -0,33 hingga pertengahan Juni.

“Setelah itu akan masuk fase netral, yang ditandai kondisi cuaca cenderung lebih kering dan terik,” ujarnya dalam Dialog Malang Menyapa edisi Selasa (14/4/2026).

Ia menambahkan, percepatan musim kemarau juga dipengaruhi oleh angin muson Australia yang membawa massa udara kering lebih cepat ke wilayah Indonesia, khususnya Jawa Timur.

Akibatnya, awal musim kemarau yang biasanya terjadi pada Mei, kini sudah mulai dirasakan sejak April di beberapa wilayah. Di Malang bagian selatan misalnya, musim kemarau telah dimulai pada dasarian ketiga April, sementara wilayah tengah termasuk Kota Malang diperkirakan menyusul pada dasarian kedua Mei.

Puncak musim kemarau sendiri diprediksi berlangsung pada Agustus, dengan periode terpanas terjadi sejak akhir Juni hingga Agustus.

Terkait peluang El Nino yang disebut berada di kisaran 50-80 persen, Andrie menyebut kondisi tersebut berpotensi terjadi pada puncak musim kemarau, bahkan dapat berlanjut hingga September, tergantung faktor atmosfer dan kondisi topografi wilayah.

Ia menjelaskan, perbedaan utama antara kemarau biasa dan kemarau akibat El Nino terletak pada tingkat kekeringannya.

“Udara menjadi lebih kering, kelembaban menurun, sehingga berpotensi meningkatkan risiko kebakaran, paparan radiasi ultraviolet yang lebih tinggi, hingga tanah menjadi retak karena minimnya kandungan air,” jelasnya.

Untuk wilayah Jawa Timur, dampak yang ditimbulkan diperkirakan tidak jauh berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, terutama jika tidak ada perubahan signifikan pada kondisi lingkungan.

Namun, upaya mitigasi seperti reboisasi, pembangunan irigasi, serta penyediaan area resapan air dinilai dapat mengurangi dampak kekeringan.

Di Malang Raya, potensi kekeringan relatif merata. Meski wilayah pegunungan masih memiliki vegetasi yang mampu menyerap air, daerah yang mengalami alih fungsi lahan seperti dari persawahan menjadi permukiman cenderung lebih rentan mengalami kekeringan.

Masyarakat pun diimbau untuk lebih waspada menghadapi musim kemarau, terutama dalam mencegah kebakaran dan menjaga kesehatan.

“Jangan bermain api sembarangan, karena risiko kebakaran meningkat. Selain itu, perhatikan kesehatan seperti penyakit kulit, gangguan mata, dan pernapasan akibat udara kering,” katanya.

Ia juga mengingatkan pentingnya memantau informasi resmi dari BMKG serta tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi.

Dengan memahami kondisi cuaca sejak dini, masyarakat diharapkan dapat lebih siap menghadapi potensi dampak musim kemarau tahun ini. (Annisa)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....