Harga Cabai Naik, PPKE Soroti Manajemen Stok

  • 10 Feb 2026 13:47 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang - Kenaikan harga cabai yang kerap terjadi menjelang Ramadan dan Lebaran kembali menjadi perhatian masyarakat. Lonjakan harga komoditas hortikultura ini dinilai bukan hanya dipengaruhi oleh masa tanam, tetapi juga oleh faktor cuaca ekstrem, pola distribusi, hingga manajemen stok yang belum optimal.

Peneliti Senior Pusat Penelitian Kebijakan Ekonomi (PPKE) FEB Universitas Brawijaya, Joko Budi Santoso, menjelaskan bahwa tren kenaikan harga kebutuhan pokok menjelang hari besar keagamaan sebenarnya merupakan pola yang berulang setiap tahun.

“Setiap menjelang Ramadan dan Lebaran, kenaikan harga kebutuhan pokok selalu terjadi dan seharusnya bisa diantisipasi. Yang agak sulit diprediksi itu komoditas hortikultura seperti cabai, apalagi ketika dipengaruhi cuaca ekstrem dan curah hujan tinggi yang mengganggu produksi,” ujarnya dalam Dialog Malang Menyapa, Selasa (10/2/2026). 

Joko menyebutkan, masa tanam cabai relatif singkat, yakni sekitar 2,5 hingga 3 bulan sudah bisa dipanen. Namun, singkatnya masa tanam tersebut tidak otomatis membuat harga cabai stabil. Hal ini karena adanya lonjakan permintaan pada momen-momen tertentu.

“Kebutuhan cabai itu harus dipetakan. Ada kebutuhan rumah tangga yang relatif stagnan, tapi ada juga kebutuhan industri dan usaha kecil yang biasanya melonjak saat libur sekolah atau Ramadan. Nah, ini yang sering sulit diprediksi,” jelasnya.

Selain permintaan, distribusi antarwilayah juga turut memengaruhi ketersediaan cabai di pasar lokal. Wilayah Malang Raya dan Kota Batu menjadi salah satu penopang pasokan cabai untuk daerah lain seperti Surabaya. Ketika pasokan mengalir keluar daerah, stok di daerah asal pun berkurang.

“Ketika satu daerah banyak mengirim ke daerah lain, stok lokal pasti tergerus. Ini harusnya sudah diantisipasi, terutama lewat kebijakan jangka panjang,” katanya.

Salah satu solusi yang ditawarkan adalah penguatan manajemen stok melalui penyediaan cold storage sebagai buffer stok pangan. Joko menilai, pemerintah daerah hingga tingkat kecamatan dapat berperan aktif dalam menyediakan fasilitas penyimpanan hasil panen.

“Ketika panen raya, hasil produksi bisa disimpan di cold storage. Lalu dikeluarkan secara bertahap saat terjadi lonjakan permintaan. Tapi ini harus dilakukan bersama-sama, karena kalau jalan sendiri-sendiri akan berat,” ujarnya.

Dari sisi produksi, cuaca ekstrem dinilai menjadi tantangan besar yang tidak hanya memengaruhi hasil panen, tetapi juga jalur distribusi. Oleh karena itu, diperlukan inovasi dan adaptasi teknologi, baik pada proses produksi maupun pascapanen, agar komoditas pertanian tidak cepat rusak.

Ia juga menekankan pentingnya kebijakan berbasis data. Menurutnya, kebijakan pangan yang tidak didukung pemetaan kebutuhan dan distribusi yang akurat berpotensi tidak tepat sasaran.

“Langkah pertama itu petakan kebutuhan konsumsi rumah tangga dan industri. Kedua, perkuat manajemen stok. Ketiga, dorong kebijakan jangka menengah dan panjang seperti urban farming dan pemanfaatan pekarangan untuk ketahanan pangan,” paparnya.

Joko juga mengingatkan pentingnya peran masyarakat dalam menjaga stabilitas harga. Menurutnya, pada momentum seperti bulan Ramadan, konsumsi seharusnya dapat lebih dikendalikan. Dengan konsumsi yang lebih bijak, lonjakan permintaan dapat ditekan sehingga tidak memperparah kelangkaan dan kenaikan harga di pasar. (Annisa)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....