Ramadan Dua Kali pada Tahun 2030 Fenomena Langka

  • 10 Mar 2026 10:44 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang: Ramadan selalu terasa datang lebih cepat setiap tahun dalam kalender Masehi. Namun tahun 2030 diperkirakan menghadirkan fenomena unik karena bulan Ramadan terjadi dua kali dalam satu tahun.

Dilansir dari Indonesiabaik.id portal resmi Komdigi, Selasa (10/03/2026), berdasarkan perhitungan kalender Hijriah, Ramadan pertama diperkirakan dimulai pada tanggal 5 Januari 2030 di berbagai wilayah dunia. Sementara Ramadan berikutnya diperkirakan kembali dimulai pada tanggal 26 Desember 2030, masih dalam tahun Masehi yang sama.

Fenomena ini sering membuat banyak orang bertanya mengapa Ramadan seolah terus maju setiap tahun dalam kalender Masehi. Jawabannya berkaitan dengan perbedaan sistem penanggalan antara kalender Hijriah dan kalender Masehi yang digunakan masyarakat dunia saat ini.

Kalender Hijriah didasarkan pada peredaran bulan mengelilingi bumi, yang disebut juga sebagai sistem lunar dalam penentuan waktu. Dalam sistem ini, satu tahun Hijriah memiliki sekitar 354 hingga 355 hari, lebih pendek dibandingkan kalender Masehi.

Sementara itu, kalender Masehi menggunakan sistem matahari atau solar dengan jumlah hari sekitar 365 hingga 366 setiap tahun. Perbedaan panjang hari antara kedua kalender tersebut menyebabkan tanggal Hijriah terus bergeser dalam kalender Masehi setiap tahun.

Selisih sekitar sepuluh hingga dua belas hari membuat awal Ramadan selalu maju lebih awal dalam kalender Masehi setiap tahunnya. Karena pergeseran tersebut terjadi terus menerus, posisi Ramadan akhirnya berputar melewati seluruh musim dalam siklus waktu tertentu.

Dalam rentang sekitar tiga puluh tiga tahun, Ramadan biasanya kembali muncul pada periode musim yang hampir sama sebelumnya. Fenomena perputaran ini dikenal luas sebagai siklus tiga puluh tiga tahun dalam kalender Hijriah yang digunakan umat Islam.

Akumulasi pergeseran tahunan tersebut membuat Ramadan pada tahun 2030 jatuh pada awal Januari dan kembali hadir pada akhir Desember. Kondisi itulah yang menyebabkan masyarakat dunia berpotensi menjalani dua kali Ramadan dalam satu tahun kalender Masehi.

Fenomena ini sebenarnya bukan kejadian pertama dalam sejarah penanggalan Islam dan pernah terjadi pada periode puluhan tahun sebelumnya. Peristiwa serupa diperkirakan akan terulang kembali beberapa dekade mendatang ketika siklus pergeseran kalender Hijriah mencapai titik tertentu.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....