Cahyaning Ati: Makna Shalat Tarawih
- 27 Feb 2026 10:44 WIB
- Malang
RRI.CO..ID, Malang - Ustaz Nur Cholis dalam program Cahyaning Ati di Pro 4 RRI Malang meluruskan anggapan sebagian masyarakat yang mengira shalat Tarawih berjamaah di masjid hanyalah kebiasaan yang diwariskan dari generasi ke generasi. “Kalau kita membuka sejarah Islam, justru di sana terlihat kecerdasan dan kehati-hatian Rasulullah dalam menjaga umatnya,” jelasnya, Jumat (27/2/2026).
Ia menerangkan bahwa pada masa Muhammad, istilah Tarawih belum dikenal. “Saat itu disebut sebagai qiyam Ramadan, yakni shalat malam di bulan Ramadan,” katanya. Suatu malam, Rasulullah melaksanakan shalat malam di Masjid Nabawi. Bacaan Al-Qur’an beliau terdengar merdu dalam suasana hening. Tanpa perencanaan, para sahabat yang melihat beliau kemudian ikut bermakmum di belakangnya.
“Pada malam kedua, ketiga, hingga keempat, jamaah semakin banyak sampai masjid penuh,” ungkapnya. Namun pada salah satu malam berikutnya, Rasulullah tidak keluar untuk memimpin shalat. “Beliau mengetahui para sahabat menunggu, tetapi sengaja tidak keluar karena khawatir ibadah itu diwajibkan,” terang Ustaz Nur Cholis.
Menurutnya, Rasulullah takut jika turun wahyu yang menjadikan qiyam Ramadan sebagai kewajiban, sementara umat belum tentu sanggup melaksanakannya. “Inilah bentuk kasih sayang beliau. Beliau tidak ingin memberatkan umatnya,” tegasnya. Sejak itu hingga akhir hayat Rasulullah, shalat malam Ramadan dilakukan sendiri-sendiri, baik di rumah maupun terpencar di masjid.
Perubahan terjadi pada masa kepemimpinan Umar. “Pada tahun 14 Hijriah, Umar melihat umat shalat terpencar-pencar. Beliau kemudian menggagas penyatuan dalam satu jamaah,” jelasnya. Umar menunjuk Ubay ibn Ka'b sebagai imam tetap. “Sejak saat itulah shalat Tarawih berjamaah menjadi syiar yang teratur hingga sekarang,” katanya.
Dalam kesempatan itu, Ustaz Nur Cholis juga mengutip kitab Durratun Nasihin. “Dalam kitab tersebut dijelaskan bahwa meninggalkan shalat Tarawih adalah sebuah kerugian, karena ia pintu ampunan,” ujarnya. Ia mengingatkan sabda Rasulullah bahwa siapa yang melaksanakan qiyam Ramadan dengan iman dan penuh harap kepada Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.
“Tarawih bukan sekadar ibadah tambahan. Ini kesempatan emas meraih maghfirah,” tegasnya lagi. Ia menambahkan, shalat Tarawih menjadi penjaga ketakwaan di malam hari agar puasa di siang hari tidak hanya sebatas menahan lapar dan dahaga.
“Kalau siangnya kita berpuasa, malamnya kita hidupkan dengan qiyam. Di situlah Ramadan menjadi utuh,” pungkasnya. Menurutnya, kekhusyukan dalam setiap rakaat, yang disempurnakan dengan shalat Witir, akan menghadirkan cahaya dalam hati serta meninggikan derajat seorang hamba di sisi Allah SWT (Mey)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....