Dua Abad Masjid Kuningan Menjaga Syiar Islam
- 24 Feb 2026 08:46 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Blitar - Di Desa Kuningan, Kecamatan Kanigoro, Kabupaten Blitar, berdiri masjid tua yang telah menjadi bagian penting perjalanan syiar Islam di Blitar Raya.
Masjid yang dikenal sebagai Masjid Kuningan Pondok Kidul atau Masjid Nurul Huda Kuningan Selatan ini diperkirakan dibangun sekitar tahun 1823.
Dengan usia lebih dari dua abad, masjid ini disebut sebagai yang tertua di Kabupaten Blitar. Keberadaannya bahkan lebih dulu dibanding Masjid Agung Kota Blitar yang berdiri pada 1895.
Pengurus Masjid, Haikal Asfari, menuturkan masjid tersebut didirikan oleh dua tokoh penting, yakni Syekh Abu Hasan dan Syekh Abu Mansur. Keduanya disebut memiliki kaitan dengan pasukan khusus Pangeran Diponegoro dalam perjuangan melawan penjajahan Belanda.
"Syekh Abu Hasan lebih dahulu datang ke Blitar. Beberapa tahun kemudian disusul menantunya, Syekh Abu Mansur," ujarnya, Selasa (24/2/2026).
Sebelum menetap di Blitar, Syekh Abu Hasan dikenal sebagai ulama di lingkungan Kerajaan Mataram Islam di Yogyakarta. Sementara Syekh Abu Mansur disebut memiliki garis keturunan Panembahan Senopati, pendiri Mataram Islam.
| Baca juga: Cahyaning Ati: Makna Shalat Tarawih |
Kedatangan keduanya tak hanya untuk berdakwah, tetapi juga membawa semangat perjuangan. Setelah Perang Jawa berakhir dan Pangeran Diponegoro ditangkap, mereka memilih tetap tinggal di Blitar untuk melanjutkan syiar Islam melalui pendidikan dan kegiatan keagamaan.
Di kompleks masjid, bangunan pondok pesantren peninggalan keduanya masih berdiri kokoh. Rumah panggung bergaya joglo itu sebagian besar mempertahankan material asli, mulai dari kayu jati, anyaman bambu sebagai sekat kamar, hingga pintu berengsel kayu model lama.
"Struktur utama masjid juga tetap terjaga. Meski beberapa bagian seperti serambi depan dan samping telah mengalami penyesuaian, bagian inti bangunan masih mempertahankan bentuk awal. Renovasi terakhir tercatat dilakukan pada tahun 1880," terangnya.
Sejumlah benda bersejarah pun masih digunakan hingga kini, seperti bedug, mimbar, serta tombak dwisula bermata dua yang dipakai saat khotbah Salat Jumat.
Memasuki Ramadan 1447 Hijriah, masjid ini kembali ramai dengan aktivitas ibadah. Salat Tarawih, tadarus, hingga iktikaf digelar rutin. Sekitar 150 anak mengikuti Pondok Ramadan yang diadakan di kompleks tersebut.
Selain menjadi pusat ibadah, kawasan ini juga kerap didatangi peziarah yang mengunjungi makam Syekh Abu Hasan dan Syekh Abu Mansur.
"Meski sempat menerima santri dari berbagai daerah seperti Tulungagung, Kediri hingga Sumatera, sejak pandemi 2020 pondok lebih banyak dihuni santri lokal," imbuhnya.
Lebih dari sekadar bangunan tua, Masjid Kuningan Pondok Kidul menjadi simbol keteguhan dakwah, pendidikan, serta jejak sejarah panjang Islam di Blitar.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....