Permintaan Meningkat, Harga Pangan Naik Saat Ramadan
- 06 Mar 2025 14:44 WIB
- Malang
KBRN, Malang: Harga kebutuhan pokok di pasar mengalami kenaikan yang signifikan, memasuki bulan ramadan. Fenomena ini disebut sebagai pola rutin tahunan yang terjadi akibat meningkatnya permintaan konsumen selama Ramadan dan menjelang Lebaran.
Peneliti dari Pusat Penelitian Kebijakan Ekonomi (PPKE) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya, Dwi Ardi Sugiono, menjelaskan bahwa selain tingginya permintaan, faktor lain yang turut berkontribusi terhadap kenaikan harga adalah adanya tambahan penghasilan masyarakat, seperti Tunjangan Hari Raya (THR), serta pola konsumsi yang meningkat selama periode ini.
“Ini seperti pola rutin setiap tahun. Di mana di setiap Ramadan maupun Lebaran itu, ada permintaan konsumen yang meningkat. Jadi karena memang didukung, ada tambahan penghasilan dari THR, contohnya. Selain itu juga memang ada pola konsumsi masyarakat yang meningkat selama Ramadan dan Lebaran,” ungkapnya pada Kamis (6/3/2025).
Sebagai upaya untuk menekan lonjakan harga dan menjaga ketersediaan stok pangan, pemerintah telah menggelar Gerakan Pangan Murah (GPM). Dwi Ardi menyebutkan bahwa langkah ini bertujuan untuk memastikan cadangan pangan tetap aman, meskipun tantangan dari spekulan pasar tetap perlu diwaspadai.
“Antisipasi ini dengan adanya Gerakan Pangan Murah. Jadi tujuan dari GPM ini adalah untuk menjaga cadangan stok biar aman. Tetapi kita di satu sisi juga perlu mempertimbangkan adanya spekulan-spekulan pasar tadi,” ujarnya.
Mengenai efektivitas program GPM dalam menekan lonjakan harga, Dwi Ardi menilai bahwa meskipun bermanfaat, cakupan program ini masih terbatas dan belum sepenuhnya menjangkau kebutuhan masyarakat secara merata.
“Menurut kami, mungkin efektif dalam skala tertentu ya. Karena operasi pasar maupun GPM ini belum tentu 100% menjangkau kebutuhan masyarakat. Apalagi, kan kita tahu bahwa operasi pasar juga punya keterbatasan,” jelasnya.
Ia juga menegaskan bahwa operasi pasar tetap merupakan langkah positif pemerintah untuk mengatasi gejolak harga dalam jangka pendek. Di Kota Malang, Kabupaten Malang, hingga Kota Batu, operasi pasar telah digelar sebagai langkah menstabilkan harga bahan pokok. Namun, efektivitasnya masih menjadi perdebatan. Dwi Ardi menilai bahwa operasi pasar harus dilakukan lebih masif dan serentak agar dampaknya lebih signifikan terhadap harga pasar.
“Menurut saya, kalau saya melihat, operasi pasar ini sebagai itikad baik pemerintah untuk mengatasi adanya shock masalah harga tadi. Jadi kalau misalkan apakah itu efektif atau tidak, ya kita baru bisa melihatnya setelah operasi pasar itu dilakukan. Tapi saya justru berharap operasi pasar itu bisa menekan para spekulan untuk tidak memanfaatkan momentum-momentum seperti di Ramadhan ini,” pungkasnya. (SRF)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....