Donor Darah Sukarela Tetap Harus Penuhi Standar Keamanan

  • 15 Apr 2026 17:52 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang - Program dialog interaktif di RRI Malang membahas pentingnya donor darah aman sebagai bagian dari kegiatan kemanusiaan yang terstandar. Sri Mudayatiningsih, S.Kp., M.Kes dari Poltekkes Malang menjelaskan bahwa donor darah tidak sesederhana yang dibayangkan masyarakat.

Ia menyebutkan bahwa terdapat beberapa kategori donor darah yang selama ini dikenal dalam sistem pelayanan kesehatan. Namun, dari seluruh kategori tersebut, donor sukarela tetap menjadi prioritas utama dalam menjaga kualitas dan keamanan darah.

“Yang kita tekankan adalah donor sukarela, tanpa paksaan dan tanpa embel-embel apapun,” ujarnya pada Selasa (14/4/2026).

Menurutnya, konsep sukarela ini penting karena berkaitan dengan kejujuran pendonor dalam memberikan informasi kondisi kesehatannya. Hal tersebut menjadi dasar awal dalam proses skrining sebelum darah benar-benar diambil dan diproses lebih lanjut.

Meski demikian, ia mengakui bahwa di lapangan masih ditemukan praktik donor pengganti dengan kompensasi tertentu. Situasi ini biasanya muncul saat keluarga pasien kesulitan mencari pendonor yang sesuai dalam waktu singkat.

“Perlu ditekankan bahwa darah itu tidak diperjualbelikan, meskipun memang ada fenomena donor bayaran di kondisi tertentu,” jelasnya.

Sri juga menjelaskan bahwa darah yang telah diambil tidak langsung digunakan, melainkan disimpan sesuai standar tertentu. Darah lengkap dapat bertahan hingga sekitar 32 hari dalam suhu terkontrol di bank darah.

Selain itu, terdapat komponen darah seperti trombosit yang memiliki masa simpan jauh lebih singkat dibandingkan darah lengkap. Trombosit hanya dapat digunakan dalam rentang waktu sekitar tiga hingga lima hari sebelum akhirnya harus dimusnahkan.

“Kalau tidak digunakan, darah itu bisa menjadi limbah dan proses pembuangannya juga membutuhkan biaya,” tambahnya.

Ia menegaskan bahwa pengelolaan darah tidak hanya soal pengambilan, tetapi juga mencakup penyimpanan hingga distribusi. Seluruh tahapan tersebut membutuhkan standar tinggi karena berkaitan langsung dengan keselamatan pasien penerima.

Menurutnya, biaya dalam pengelolaan darah juga cukup besar karena adanya tuntutan keamanan dan kualitas yang ketat. Hal ini menjadi alasan mengapa setiap proses harus dilakukan secara hati-hati dan sesuai prosedur.

“Harapannya donor itu aman untuk pendonor dan juga aman untuk penerima,” pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....