Kolesterol Tinggi Bisa Memicu Penyakit Jantung Koroner
- 13 Apr 2026 13:34 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang — Penyakit jantung koroner merupakan salah satu penyakit tidak menular yang banyak dipengaruhi oleh gaya hidup dan kondisi kesehatan seseorang dalam jangka panjang. Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah RSUD Dr. Saiful Anwar Malang, dr. Indra Prasetya Sp.JP, Subsp.I.K.Kv (K), menjelaskan bahwa salah satu faktor risiko utama yang paling sering ditemukan pada pasien adalah kadar kolesterol yang tinggi di dalam darah.
“Kolesterol tinggi bisa memicu penyakit jantung koroner karena lemak tersebut akan menumpuk di dinding pembuluh darah dan membentuk plak yang lama-kelamaan membuat pembuluh darah menjadi sempit,” ujarnya dalam dialog Malang Siang Ini di Pro 1 RRI Malang, Kamis (9/4/2026). Ia menjelaskan bahwa kondisi tersebut dapat menghambat aliran darah menuju otot jantung sehingga suplai oksigen yang dibutuhkan jantung menjadi berkurang.
Lebih lanjut dr. Indra menerangkan bahwa proses penyempitan pembuluh darah ini biasanya berlangsung secara perlahan dan sering kali tidak disadari oleh penderitanya. Penumpukan plak yang terjadi selama bertahun-tahun dapat membuat pembuluh darah menjadi kaku dan sempit. Jika suatu saat plak tersebut pecah, tubuh akan membentuk bekuan darah yang dapat menutup aliran darah secara tiba-tiba dan memicu serangan jantung.
“Ketika aliran darah ke jantung berkurang atau bahkan terhenti karena penyumbatan tersebut, maka otot jantung bisa mengalami kerusakan. Inilah yang kemudian kita kenal sebagai serangan jantung koroner,” jelasnya. Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya masyarakat untuk menjaga kadar kolesterol tetap normal melalui pola hidup sehat.
Selain kolesterol tinggi, dr. Indra juga menyebutkan sejumlah faktor risiko lain yang dapat meningkatkan kemungkinan seseorang mengalami penyakit jantung koroner. “Tekanan darah tinggi, kebiasaan merokok, diabetes melitus, serta obesitas juga sangat berpengaruh terhadap kesehatan pembuluh darah,” katanya. Kebiasaan kurang bergerak atau jarang berolahraga juga dapat memperburuk kondisi tersebut karena tubuh tidak mampu mengontrol kadar lemak secara optimal.
Ia menambahkan bahwa faktor usia dan riwayat keluarga juga berperan dalam meningkatkan risiko penyakit jantung koroner. Seseorang yang memiliki anggota keluarga dengan riwayat penyakit jantung cenderung memiliki risiko yang lebih besar untuk mengalami kondisi serupa dibandingkan dengan mereka yang tidak memiliki riwayat tersebut.
“Karena itu masyarakat perlu mengenali faktor risiko sejak dini dan mulai melakukan perubahan gaya hidup yang lebih sehat, seperti menjaga pola makan, rutin berolahraga, serta melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala,” pungkasnya. Menurutnya, dengan memahami faktor risiko tersebut, masyarakat dapat mengambil langkah pencegahan lebih awal agar terhindar dari penyakit jantung koroner.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....