Puasa Pasien Kanker Perlu Pengawasan Medis

  • 18 Feb 2026 14:48 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang – Menjalankan ibadah puasa Ramadan bagi penderita kanker tidak bisa disamakan dengan orang sehat pada umumnya. Kondisi tubuh yang sedang menjalani terapi, kebutuhan nutrisi yang tinggi, hingga risiko dehidrasi menjadi pertimbangan penting sebelum memutuskan berpuasa. Karena itu, konsultasi medis sangat dianjurkan agar ibadah tetap berjalan tanpa membahayakan kesehatan.

Dokter Spesialis Bedah Onkologi RSSA Malang, dr. Prisca Anindhita, Sp.B, menegaskan bahwa puasa pada pasien kanker sangat bergantung pada kondisi klinis masing-masing. “Tidak semua pasien kanker dilarang berpuasa. Tapi keputusan itu harus berdasarkan evaluasi medis. Kita lihat stadium penyakit, kondisi umum pasien, serta apakah sedang menjalani kemoterapi atau tidak,” jelasnya kepada RRI Malang pada Rabu (18/2/2026).

Dari sisi asupan gizi, pasien kanker membutuhkan nutrisi seimbang untuk menjaga daya tahan tubuh dan mendukung proses penyembuhan. Terlebih pada pasien yang mengalami penurunan hemoglobin dan memerlukan tablet zat besi. “Puasa bisa memengaruhi pola makan dan kebutuhan nutrisi. Kalau asupan tidak tercukupi, pasien bisa semakin lemas, bahkan anemia bertambah berat,” ujar dr. Prisca.

Risiko lain yang perlu diwaspadai adalah dehidrasi dan gangguan metabolik, terutama pada pasien yang mengalami mual, muntah, atau diare akibat terapi. Jika dipaksakan tanpa pengawasan dokter, kondisi pasien bisa memburuk hingga memerlukan rawat inap. “Jangan sampai niat ibadah justru membuat pasien harus dirawat karena kekurangan cairan atau kondisi drop. Konsultasi sebelum puasa itu sangat penting,” tegasnya.

Terkait pengaturan obat, dr. Prisca menjelaskan tidak semua jadwal minum obat bisa serta-merta diubah. Beberapa obat harus diminum tiga kali sehari dengan interval tertentu. Penyesuaian hanya bisa dilakukan dengan arahan dokter. “Ada kondisi tertentu yang secara medis memang tidak dianjurkan berpuasa, misalnya pasien dengan kondisi sangat lemah, infeksi berat, atau sedang menjalani terapi intensif,” katanya.

Meski demikian, secara psikologis keinginan pasien untuk tetap berpuasa bisa memberikan semangat dan rasa optimisme. Namun ia mengingatkan bahwa puasa bukan pengganti terapi medis. “Intermittent fasting memang sedang banyak diteliti, ada efek pada metabolisme, tetapi itu tidak menggantikan kemoterapi atau terapi kanker lainnya. Jika kondisi tidak memungkinkan, tidak berpuasa juga bagian dari menjaga kesehatan, dan itu juga bernilai ibadah,” pungkas dr. Prisca.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....