Pendidikan Tak Cukup IQ, Soft Skill Sangat Dibutuhkan

  • 24 Jun 2026 11:36 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang - Dosen Universitas Tribhuwana Tunggadewi (Unitri) Malang, Dwi Asnawawi Nurhananto, SP., MP., menekankan pentingnya keseimbangan antara kecerdasan intelektual (IQ), kecerdasan emosional, dan nilai-nilai keagamaan dalam dunia pendidikan.

Menurut Dwi, selama ini sistem pendidikan di Indonesia masih cenderung menitikberatkan pada aspek akademik atau kecerdasan intelektual. Kondisi tersebut terlihat dari budaya pendidikan yang sejak lama menempatkan prestasi akademik sebagai ukuran utama keberhasilan peserta didik.

"Kalau kita jujur, kurikulum kita memang lebih menonjolkan aspek akademik atau IQ. Dulu bahkan ada istilah juara kelas yang menjadi tolok ukur keberhasilan siswa, meskipun sekarang pendekatan seperti itu sudah mulai ditinggalkan," ujarnya dalam Obrolan Budaya di RRI Malang, Rabu (24/6/2026).

Ia menjelaskan, pengelompokan berdasarkan kemampuan akademik juga pernah menciptakan stigma di lingkungan pendidikan. Pada jenjang sekolah menengah misalnya, jurusan IPA kerap dianggap lebih unggul dibandingkan IPS maupun Bahasa.

Pandangan serupa, lanjutnya, masih sering ditemui di perguruan tinggi. Fakultas yang berbasis ilmu eksakta seperti kedokteran atau teknik kerap dipandang memiliki prestise lebih tinggi dibandingkan bidang seni, budaya, maupun ilmu sosial.

"Masih ada anggapan bahwa mahasiswa kedokteran atau fakultas eksakta lebih hebat dibandingkan mahasiswa dari bidang lain. Padahal setiap disiplin ilmu memiliki kontribusi dan perannya masing-masing," katanya.

Dwi menilai penguatan aspek seni dan budaya dalam pendidikan perlu terus dilakukan. Perguruan tinggi dapat berperan melalui kegiatan penelitian, proses pembelajaran, maupun pengabdian kepada masyarakat yang mengintegrasikan nilai-nilai budaya dan karakter.

Ia juga menyoroti tantangan yang dihadapi generasi muda di dunia kerja. Berdasarkan data yang pernah ia pelajari dari Badan Pusat Statistik (BPS), sekitar 67 persen penyumbang angka pengangguran berasal dari kelompok Generasi Z.

Menurutnya, kondisi tersebut menarik karena di sisi lain generasi muda justru menunjukkan dominasi dalam jumlah angkatan kerja. Namun, terdapat kesenjangan antara kompetensi yang dibangun selama pendidikan dengan kebutuhan dunia kerja.

"Dunia kerja tidak hanya menilai kemampuan akademik atau IPK. Soft skill seperti kemampuan berkomunikasi, etika, sopan santun, kerja sama tim, hingga kemampuan memecahkan masalah justru menjadi faktor yang sangat diperhatikan," jelasnya.

Bahkan, kata Dwi, sejumlah perusahaan saat ini tidak lagi menjadikan asal perguruan tinggi sebagai pertimbangan utama dalam proses rekrutmen. Sebaliknya, calon pekerja lebih sering diberikan studi kasus untuk mengukur kemampuan berpikir kritis dan mencari solusi.

"Ada perusahaan yang tidak terlalu melihat lulusan dari kampus mana. Mereka memberikan kasus dan melihat bagaimana seseorang menyelesaikan masalah tersebut. Itu yang menjadi ukuran kemampuan sebenarnya," ujarnya.

Dwi berharap dunia pendidikan dapat semakin mendorong pengembangan karakter, kecerdasan emosional, dan keterampilan sosial tanpa mengabaikan prestasi akademik. Dengan demikian, lulusan yang dihasilkan tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga siap menghadapi tantangan dunia kerja dan kehidupan bermasyarakat.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....