FKIP UMM Berubah Jadi Fakultas Pendidikan Sains dan Humaniora, Jawab Tuntutan AI
- 06 Jul 2026 13:33 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang - Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengubah nama Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) menjadi Fakultas Pendidikan Sains dan Humaniora (FPSH). Perubahan nama ini sebagai strategi merespons perubahan kebutuhan masyarakat, perkembangan ilmu pengetahuan, serta dinamika dunia kerja yang semakin dipengaruhi transformasi digital dan kecerdasan artifisial (AI).
Perubahan yang telah ditetapkan melalui Surat Keputusan pada 30 Mei 2026 itu menjadi langkah UMM memperluas ruang pengembangan keilmuan yang selama ini dinilai tidak lagi cukup jika hanya berfokus pada pendidikan keguruan. Hal ini diungkapkan Dekan FPSH UMM, Prof. Dr. Moh. Mahfud Effendi, M.M. di momen peluncuran nama baru fakultas, Senin (6/7/2026).
Perubahan yang telah ditetapkan melalui Surat Keputusan pada 30 Mei 2026 itu menjadi langkah UMM memperluas ruang pengembangan keilmuan yang selama ini dinilai tidak lagi cukup jika hanya berfokus pada pendidikan keguruan. Hal ini diungkapkan Dekan FPSH UMM, Prof. Dr. Moh. Mahfud Effendi, M.M. di momen peluncuran nama baru fakultas, Senin (6/7/2026).
"Ini bukan sekadar pergantian nama, tetapi perubahan arah pengembangan fakultas agar mampu menjawab kebutuhan zaman. Kalau hanya menjadi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, ruang pengembangannya terbatas. Padahal matematika, biologi, dan bidang ilmu lainnya memiliki banyak cabang yang dibutuhkan masyarakat. Karena itu kami memperluas menjadi Fakultas Pendidikan Sains dan Humaniora agar bisa berkolaborasi dengan berbagai disiplin ilmu," katanya.
Mahfud menilai, perkembangan teknologi, termasuk pesatnya pemanfaatan AI berpotensi menghadirkan bidang-bidang keilmuan baru yang membutuhkan kompetensi lintas disiplin. Karena itu, FPSH akan mengembangkan berbagai bidang baru seperti data science, bioinformatika, hingga kajian lingkungan yang relevan dengan kebutuhan industri dan masyarakat.
"Perguruan tinggi tidak bisa bertahan dengan model pendidikan lama jika ingin tetap relevan. Sehingga kita harus merespons perkembangan zaman. Apa yang dibutuhkan masyarakat, itu yang harus kita siapkan. Kalau kita hanya menawarkan apa yang kita miliki tanpa melihat kebutuhan pasar, maka kita akan tertinggal," tutur Mahfud.
Selain mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan, transformasi tersebut juga dipengaruhi perubahan minat calon mahasiswa. Mahfud mengakui program studi kependidikan kini menghadapi tantangan menurunnya daya tarik, terutama di kalangan generasi muda yang menginginkan pilihan karier lebih luas. Terlebih isu gaji tenaga pendidik yang dinilai kecil juga mempengaruhi minat generasi muda menekuni bidang keguruan.
"Kami melihat minat terhadap bidang keguruan tidak sebesar dulu. Generasi sekarang menginginkan fleksibilitas dan peluang karier yang lebih beragam. Karena itu fakultas harus menyediakan ruang yang lebih luas agar lulusannya dapat berkiprah di berbagai sektor, bukan hanya menjadi guru," jelasnya.
Meski demikian, Mahfud menegaskan identitas pendidikan tetap menjadi fondasi utama fakultas. Unsur sains dan humaniora justru dihadirkan untuk memperkuat kompetensi lulusan sehingga mampu menghadapi tantangan global tanpa meninggalkan nilai-nilai kemanusiaan.
Sementara itu, Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, S.E., M.Si., menekankan bahwa perubahan nama fakultas harus diikuti transformasi nyata dalam budaya akademik.
"Jangan sekadar mengubah papan nama. Yang lebih penting adalah perubahan substantif, mulai dari pola pikir, kreativitas, inovasi, hingga kemampuan menghadirkan solusi bagi masyarakat. Perguruan tinggi harus adaptif terhadap perubahan dan mampu menjadi pusat solusi atas berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat," ujarnya.
Melalui transformasi tersebut, Prof. Nazaruddin berharap FPSH menjadi fakultas yang mampu mengintegrasikan pendidikan, sains, dan humaniora dalam satu ekosistem pembelajaran.
Mahfud menilai, perkembangan teknologi, termasuk pesatnya pemanfaatan AI berpotensi menghadirkan bidang-bidang keilmuan baru yang membutuhkan kompetensi lintas disiplin. Karena itu, FPSH akan mengembangkan berbagai bidang baru seperti data science, bioinformatika, hingga kajian lingkungan yang relevan dengan kebutuhan industri dan masyarakat.
"Perguruan tinggi tidak bisa bertahan dengan model pendidikan lama jika ingin tetap relevan. Sehingga kita harus merespons perkembangan zaman. Apa yang dibutuhkan masyarakat, itu yang harus kita siapkan. Kalau kita hanya menawarkan apa yang kita miliki tanpa melihat kebutuhan pasar, maka kita akan tertinggal," tutur Mahfud.
Selain mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan, transformasi tersebut juga dipengaruhi perubahan minat calon mahasiswa. Mahfud mengakui program studi kependidikan kini menghadapi tantangan menurunnya daya tarik, terutama di kalangan generasi muda yang menginginkan pilihan karier lebih luas. Terlebih isu gaji tenaga pendidik yang dinilai kecil juga mempengaruhi minat generasi muda menekuni bidang keguruan.
"Kami melihat minat terhadap bidang keguruan tidak sebesar dulu. Generasi sekarang menginginkan fleksibilitas dan peluang karier yang lebih beragam. Karena itu fakultas harus menyediakan ruang yang lebih luas agar lulusannya dapat berkiprah di berbagai sektor, bukan hanya menjadi guru," jelasnya.
Meski demikian, Mahfud menegaskan identitas pendidikan tetap menjadi fondasi utama fakultas. Unsur sains dan humaniora justru dihadirkan untuk memperkuat kompetensi lulusan sehingga mampu menghadapi tantangan global tanpa meninggalkan nilai-nilai kemanusiaan.
Sementara itu, Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, S.E., M.Si., menekankan bahwa perubahan nama fakultas harus diikuti transformasi nyata dalam budaya akademik.
"Jangan sekadar mengubah papan nama. Yang lebih penting adalah perubahan substantif, mulai dari pola pikir, kreativitas, inovasi, hingga kemampuan menghadirkan solusi bagi masyarakat. Perguruan tinggi harus adaptif terhadap perubahan dan mampu menjadi pusat solusi atas berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat," ujarnya.
Melalui transformasi tersebut, Prof. Nazaruddin berharap FPSH menjadi fakultas yang mampu mengintegrasikan pendidikan, sains, dan humaniora dalam satu ekosistem pembelajaran.
"Sehingga bisa menghasilkan lulusan yang adaptif, inovatif, serta memiliki daya saing tinggi di tengah perubahan dunia kerja dan perkembangan teknologi," tutupnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....