Pertalite Lebih Murah, Mesin dan Lingkungan Bisa Terdampak
- 23 Jun 2026 17:57 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang - Keputusan sebagian masyarakat untuk beralih dari Pertamax ke Pertalite setelah kenaikan harga BBM non-subsidi dinilai wajar dari sisi ekonomi. Namun, langkah tersebut ternyata memiliki konsekuensi terhadap kendaraan dan lingkungan.
Dosen Jurusan Teknik Mesin Politeknik Negeri Malang, Supa Kusuma Aji, menjelaskan bahwa penggunaan BBM dengan angka oktan yang lebih rendah tidak serta merta merusak mesin secara instan.
"Efeknya tidak langsung muncul besok atau minggu depan. Dampaknya baru terasa dalam jangka panjang, sekitar dua sampai tiga tahun pemakaian," ujarnya, Senin (22/6/2026).
Menurutnya, kendaraan yang dirancang menggunakan Pertamax sebenarnya telah disesuaikan dengan karakteristik BBM beroktan tinggi. Ketika kendaraan dipaksa menggunakan Pertalite, sistem komputer kendaraan atau ECU harus bekerja lebih keras untuk menyesuaikan pembakaran.
Selain itu, penggunaan Pertalite dalam jangka panjang dapat menyebabkan oli lebih cepat menghitam, filter bahan bakar lebih cepat kotor, serta menghasilkan lebih banyak kerak sisa pembakaran.
"Karena kandungan sulfur Pertalite lebih tinggi, residu pembakarannya juga lebih banyak," katanya.
Tak hanya berdampak pada mesin, penggunaan BBM dengan oktan lebih rendah juga dinilai meningkatkan emisi gas buang.
"Secara tidak langsung kita juga ikut memperburuk kualitas udara karena emisi yang dihasilkan tidak sebaik ketika menggunakan Pertamax," jelasnya.
Meski demikian, ia memahami kondisi ekonomi masyarakat yang membuat sebagian orang terpaksa memilih BBM yang lebih murah.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....