Pentingnya Mahasiswa Belajar Kritis dan Kreatif di Era Disrupsi
- 29 Mei 2026 09:29 WIB
- Malang
Rektor Universitas Negeri Malang (UM), Prof. Dr. Hariyono, M.Pd., menegaskan bahwa pendidikan di era disrupsi harus mampu melahirkan lulusan yang kritis, reflektif, tangguh, dan terus berkembang mengikuti dinamika zaman.
“Pendidikan sejatinya bukan sekadar sarana memenuhi kebutuhan pasar kerja, melainkan proses membentuk manusia agar mampu memahami kehidupan dan terus belajar,” kata Prof. Haryono, Jumat (29/5/2026).
Ia menyebut, pendidikan itu bukan semata-mata untuk memenuhi kebutuhan satu bidang.
Ia menjelaskan, dalam perkembangan masyarakat modern, sekolah dan perguruan tinggi memang ikut terdorong memenuhi kebutuhan dunia kerja.
“Namun, jika pendidikan hanya diarahkan untuk mencetak pekerja, maka manusia akan kehilangan nilai kemanusiaannya,” ungkap
Kondisi ini banyak dikritik karena menempatkan mahasiswa layaknya “sekrup pembangunan” atau mesin produksi. Padahal, filosofi pendidikan Indonesia yang diajarkan Ki Hajar Dewantara menempatkan pendidikan sebagai proses memanusiakan manusia secara utuh.
“Belajar bukan hanya untuk bekerja, tetapi juga untuk memperkuat eksistensi manusia, bagaimana kita belajar agar kapasitas belajar terus berkembang,” katanya.
Prof. Hariyono mencontohkan keberadaan program studi seperti filsafat dan sejarah yang tetap memiliki peran penting dalam membangun pola pikir dan peradaban manusia.
Di tengah perkembangan teknologi yang berlangsung cepat dan sulit diprediksi, UM mulai menggeser orientasi pembelajaran. Kampus yang dahulu dikenal sebagai IKIP Malang itu kini lebih menekankan pada penguatan kemampuan belajar mahasiswa. Transformasi tersebut diwujudkan melalui perubahan konsep UM dari The Learning University menjadi tagline Excellent in Learning Innovation.
Menurutnya, kemampuan tersebut menjadi sangat penting karena ilmu dan keterampilan yang dipelajari hari ini belum tentu relevan beberapa tahun mendatang.
“Apa yang dipelajari sekarang bisa jadi sudah berubah ketika mahasiswa lulus nanti. Karena itu, yang paling penting adalah kapasitas belajar,” katanya.
Untuk menjawab tantangan tersebut, UM juga mulai mendorong pembelajaran lintas disiplin dan kolaborasi antarkeilmuan. Prof. Hariyono menilai perkembangan ilmu pengetahuan tidak bisa lagi dibangun secara tertutup dalam satu bidang saja.
“Pendekatan multidisiplin menjadi penting karena kehidupan tidak bisa dipahami hanya dari satu perspektif ilmu,” jelasnya.
Selain itu, ia menekankan pentingnya budaya refleksi dan otokritik di lingkungan pendidikan tinggi. Menurutnya, insan akademik harus berani mengakui kesalahan dan terbuka terhadap perkembangan ilmu pengetahuan.
“Orang terdidik itu harus kritis terhadap lingkungan di luar dirinya, tetapi juga harus kritis terhadap dirinya sendiri. Kesadaran reflektif tidak hanya menuntut penguasaan keterampilan teknis, tetapi juga keberanian moral,” ujarnya.
Ia menambahkan, kebenaran ilmiah tidak bersifat mutlak karena ilmu pengetahuan akan terus berkembang mengikuti perubahan data dan zaman. Prof. Hariyono mencontohkan perubahan teori dari masa Ptolemeus hingga Copernicus sebagai bukti bahwa ilmu selalu bergerak dan berkembang.
“Kebenaran ilmiah sangat mungkin berubah seiring perkembangan zaman dan perspektif baru,” katanya.
Bagi Prof. Hariyono, tantangan terbesar pendidikan tinggi saat ini bukan hanya melahirkan lulusan yang cepat mendapatkan pekerjaan, tetapi juga membentuk manusia yang mampu belajar sepanjang hayat, responsif terhadap perubahan, serta tetap memiliki nilai kemanusiaan di tengah perkembangan zaman.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....