Berawal dari Hobi Memasak, Lely Bangun Usaha Lasagna
- 06 Okt 2026 09:04 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang -Berawal dari kegemaran memasak dan keinginan untuk kembali berkarya, Lely memberanikan diri merintis usaha kuliner Cheesy Lasagna Malang. Usaha yang mulai dijalankan pada Juni 2026 tersebut kini terus berkembang meski masih tergolong sebagai bisnis kuliner baru.
Ide menjual lasagna bermula ketika Lely mencoba membuat makanan tersebut untuk konsumsi pribadi. Hasil masakannya kemudian ia bagikan melalui Instagram Story. Tak hanya mengunggah, Lely juga membuka kesempatan bagi teman-temannya yang ingin mencoba melalui sistem pre-order.
Respons yang diterima ternyata di luar perkiraannya. Pesanan yang awalnya hanya datang dalam jumlah kecil mulai bertambah dan menjadi titik awal Lely membangun usaha sekaligus memperkenalkan produknya kepada lebih banyak orang.
“Nggak disangka ternyata unggahan itu mendapat respons positif. Awalnya ada yang pesan dua porsi, kemudian bertambah menjadi lima porsi. Dari pesanan awal itu saya mulai membangun portofolio dan memberanikan diri untuk mengembangkan usaha ini,” ujar Lely.
Setelah mendapatkan respons positif dari lingkungan terdekat, Lely mulai memanfaatkan media sosial sebagai sarana untuk memperluas jangkauan pemasaran. Ia menggunakan Instagram dan Threads untuk memperkenalkan produk sekaligus membangun komunikasi dengan calon pelanggan.
Namun, menurut Lely, pemasaran melalui media sosial memiliki tantangan tersendiri. Pelaku usaha tidak cukup hanya mengunggah foto produk dan menawarkan harga, tetapi juga perlu membuat konten yang mampu menarik perhatian audiens.
“Sekarang tantangannya bagaimana membuat konten yang tidak hanya sekadar jualan. Orang tentu tidak setiap saat ingin melihat iklan produk. Jadi, kita harus memikirkan bagaimana membuat konten yang menarik supaya orang mau melihat, mengenal produk, kemudian tertarik untuk mencoba,” jelasnya.
Seluruh proses pengelolaan usaha juga masih dilakukan Lely secara mandiri, mulai dari produksi hingga pemasaran dan pengelolaan media sosial. Dalam menjalankan aktivitas tersebut, ia mendapat dukungan dari sang suami yang turut membantu sejumlah pekerjaan operasional.
Sang suami membantu menyiapkan bahan hingga membersihkan peralatan setelah proses memasak. Dukungan tersebut membuat Lely dapat lebih fokus pada pengembangan produk sekaligus mengelola pemasaran usahanya.
Bagi Lely, menjalankan usaha tidak semata-mata tentang mengejar keuntungan. Respons pelanggan dan cerita yang muncul setelah produk diterima justru menjadi salah satu alasan yang membuatnya terus bersemangat.
Ia pernah mendapati pelanggan yang membeli lasagna untuk diberikan kepada orang tua maupun teman yang sedang sakit. Menurutnya, pengalaman tersebut memberikan makna tersendiri karena produknya dapat menjadi bagian dari perhatian seseorang kepada orang lain.
“Buat saya, usaha ini bukan hanya tentang berapa banyak produk yang terjual. Ketika ada pelanggan yang membeli untuk orang tuanya atau untuk temannya yang sedang sakit, saya merasa produk yang saya buat bisa memberikan sesuatu yang lebih. Hal-hal seperti itu yang membuat saya semakin semangat,” katanya.
Dalam membangun usaha, Lely menilai seorang pengusaha perlu memiliki mental yang kuat sekaligus berorientasi kepada pelanggan. Menurutnya, masukan konsumen tidak seharusnya dianggap sebagai kritik semata, melainkan dapat menjadi bahan evaluasi untuk meningkatkan kualitas produk.
“Pengusaha itu harus punya mental yang kuat, tetapi juga harus berorientasi kepada pelanggan. Kalau ingin memberikan produk yang bagus, kita harus mau mendengarkan masukan. Dari situ kita bisa melakukan evaluasi dan melihat apa yang perlu diperbaiki atau dikembangkan dari produk kita,” ujar Lely.
Ia juga mendorong anak muda yang memiliki keinginan untuk memulai usaha agar tidak terlalu lama terjebak dalam perencanaan tanpa mencoba. Menurutnya, usaha dapat dimulai dari skala kecil dengan memanfaatkan lingkungan terdekat sebagai pasar awal.
“Untuk anak muda yang ingin memulai usaha, jangan terlalu banyak berpikir sampai akhirnya tidak mulai-mulai. Coba mulai dari lingkungan terdekat dulu, misalnya melalui sistem pre-order. Dari situ kita bisa membangun portofolio, mendapatkan masukan, sekaligus mengenalkan produk kepada lebih banyak orang,” tambahnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....