Harga Kacang Melonjak, Jajanan Tradisional Blitar Tetap Eksis
- 06 Jul 2026 15:34 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Blitar - Aroma manis gula yang berpadu dengan gurihnya kacang masih memenuhi dapur produksi milik Asna Rosida (52) di Kelurahan Karangsari, Kecamatan Sukorejo, Kota Blitar.
Di tengah suasana riuh proses memasak dan mencetak jajanan tradisional, perempuan ini terus berupaya menjaga usahanya tetap hidup meski diterpa kenaikan harga bahan baku yang cukup drastis.
Bagi Asna, tahun ini menjadi salah satu periode paling menantang selama menjalankan usaha enting-enting dan geti.
Harga kacang tanah, bahan baku utama produk yang telah lama digelutinya melonjak tajam hingga hampir 50 persen.
"Dulu harga kacang sekitar Rp25 ribu per kilogram, sekarang sudah mencapai Rp40 ribu per kilogram. Ini tantangan terbesar bagi produsen enting-enting dan geti saat ini," ujar Asna saat ditemui di rumah produksinya, Senin (6/7/2026).
Kenaikan harga bahan baku tentu berdampak langsung pada biaya produksi. Namun, bagi Asna, menaikkan harga jual bukanlah keputusan yang bisa diambil begitu saja.
Ia harus mempertimbangkan daya beli konsumen sekaligus menjaga para reseller agar tetap bisa memasarkan produknya dengan mudah.
Setelah melalui berbagai pertimbangan, Asna memilih menaikkan harga jual sekitar 30 persen. Harga enting-enting dan geti yang sebelumnya Rp50 ribu per kilogram kini menjadi Rp60 ribu per kilogram.
| Baca juga: Allura Daily Spa Hadirkan Perawatan Lengkap |
"Kalau harga dinaikkan terlalu tinggi, kami khawatir permintaan menurun. Jadi saya ambil jalan tengah, supaya usaha tetap berjalan dan reseller juga tidak kesulitan menjual," katanya.
Tak hanya menyesuaikan harga, Asna juga melakukan inovasi pada produknya. Ia mulai memadukan bahan kacang tanah dengan wijen dalam pembuatan enting-enting maupun geti.
Langkah tersebut bukan semata untuk menekan biaya produksi, tetapi juga untuk meningkatkan cita rasa dan nilai jual produk.
Perpaduan kacang dan wijen menghasilkan rasa yang lebih gurih dengan aroma khas yang disukai pelanggan. Strategi ini terbukti membantu usahanya tetap bertahan di tengah gejolak harga bahan baku.
Setiap hari, dapur produksi Asna mampu menghasilkan sekitar satu kuintal enting-enting dan geti. Untuk memenuhi kapasitas tersebut, sedikitnya dibutuhkan 75 kilogram kacang tanah per hari.
Produk buatan Asna tidak hanya dipasarkan di Blitar dan berbagai daerah di Jawa Timur, tetapi juga telah merambah luar pulau. Sejumlah pusat oleh-oleh di berbagai daerah masih rutin memesan produknya.
"Pesanan luar pulau paling banyak dari Balikpapan, Bima, dan Bali. Selain itu, banyak juga dari Blitar dan daerah lain di Jawa Timur," tuturnya.
Di tengah tekanan kenaikan harga bahan baku yang belum menunjukkan tanda-tanda turun, Asna memilih untuk tetap optimistis.
Baginya, mempertahankan usaha bukan hanya soal keuntungan, tetapi juga tentang menjaga keberlangsungan pekerjaan bagi para karyawan yang selama ini bergantung pada usaha tersebut.
"Saya bersyukur, meskipun harga bahan baku naik, produksi masih stabil dan saya tetap bisa membayar karyawan," ucapnya dengan senyum.
Kisah Asna menjadi potret ketangguhan pelaku UMKM yang terus beradaptasi menghadapi perubahan. Di balik renyah dan manisnya enting-enting serta geti khas Blitar, tersimpan perjuangan, kreativitas, dan semangat untuk terus bertahan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....