Batik Malang Dinilai Perlu Gali Motif Kuno Bernilai Filosofis
- 03 Okt 2026 14:55 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang - Peringatan Hari Batik Nasional yang jatuh pada 2 Oktober menjadi momentum untuk kembali melihat batik tidak hanya sebagai produk kerajinan, tetapi juga sebagai bagian dari perjalanan kebudayaan masyarakat Indonesia. Pengakuan UNESCO terhadap batik Indonesia sebagai Warisan Budaya Tak Benda pada 2009 turut memperkuat posisi batik sebagai salah satu identitas budaya Indonesia di tingkat internasional.
Sejarawan Malang, Suwardono, menjelaskan, salah satu ciri khas batik yang membedakannya dari seni lukis pada umumnya adalah teknik pembuatan menggunakan canting serta pemahaman terhadap makna yang dituangkan melalui motif hias. Menurutnya, karakter tersebut menjadi salah satu alasan batik Indonesia layak mendapatkan pengakuan sebagai warisan budaya.
"Jauh sebelum pengaruh budaya Hindu dan Buddha datang, masyarakat Jawa telah memiliki sejumlah kemampuan kebudayaan yang menunjukkan tingkat peradaban cukup tinggi. Anggapan tersebut pernah disampaikan J.L.A. Brandes pada 1889, yang memasukkan batik sebagai salah satu dari sepuluh kebudayaan yang dipandang telah dikenal masyarakat Jawa pada masa awal," jelasnya saat menjadi narasumber di Pro 4 RRI Malang, Sabtu (3/10/2026).
Selain batik, kemampuan tersebut antara lain mencakup wayang, gamelan, sistem perhitungan, pengerjaan logam, mata uang sendiri, teknologi pelayaran, astronomi, pertanian padi sawah, hingga pemerintahan yang teratur.
Dari sisi istilah, Suwardono menjelaskan, kata batik kerap dikaitkan dengan kata “tik” yang berarti menitik atau menetes. Dalam perkembangannya, istilah tersebut dikaitkan dengan kata “ambatik” yang dapat dimaknai sebagai kegiatan menggambari atau menulisi.
Ia juga menjelaskan, sejumlah penelitian lama yang dilakukan Rouffaer dan Juynboll mengaitkan istilah batik dengan perbendaharaan kata rumpun bahasa Melayu-Polinesia yang tersebar dari Filipina hingga kepulauan Fiji. Beberapa istilah yang memiliki kemiripan antara lain “pantik”, “patik”, dan “bintik” yang berkaitan dengan aktivitas memberi tanda, menulis, menggambar, maupun membuat tato.
"Dalam perkembangannya, teknik membatik mengalami perubahan alat. Pada awalnya masyarakat menggunakan “kalam”, semacam lidi untuk menggambar atau menulis, sebelum kemudian berkembang menjadi canting. Penggunaan canting memungkinkan pembatik mengambil cairan pewarna atau malam secara lebih praktis, sebagaimana fungsi pena yang terus mengalami perkembangan," terangnya.
Sementara itu, motif batik pada masa lampau tidak hanya berkaitan dengan keindahan visual. Motif kain yang digunakan kalangan bangsawan dapat diketahui melalui prasasti, naskah kuno, kakawin, maupun kidung, sedangkan motif pada arca peninggalan Hindu-Buddha memiliki karakter khusus yang berkaitan dengan filsafat alam kedewaan.
Suwardono menilai, keberagaman motif pada masa lalu juga menunjukkan adanya hubungan antara batik dan lingkungan masyarakat. Karena itu, munculnya motif batik yang mengangkat ciri khas daerah pada masa sekarang dinilai sebagai hal yang wajar.
Khusus untuk batik Malang, Suwardono menyebut diperlukan kesepakatan masyarakat apabila ingin mengembangkan motif yang membawa landasan filsafat religius magis. Menurutnya, penciptaan motif baru berdasarkan lingkungan sekitar tetap dapat dilakukan, tetapi jika hendak membawa motif tersebut ke ranah filosofis religius magis, perlu dilakukan penggalian terhadap motif kuno yang pernah dikenal masyarakat Malang.
"Untuk wilayah Jawa Timur, khususnya kawasan Malang, sejumlah motif yang dapat menjadi bahan kajian antara lain Giringsing, Tumpal, Parijata, Kawung, dan Jlamprang. Penggalian kembali motif-motif tersebut dapat menjadi bagian dari upaya memperkuat identitas batik Malang dengan tetap berpijak pada jejak sejarah dan kebudayaan masa lalu," tutupnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....