Ini Tips agar Anak Muda Tak Terjebak Paylater

  • 14 Agt 2026 21:32 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang - Kemudahan akses layanan paylater membuat anak muda semakin mudah melakukan pembelian secara cicilan. Namun, kemudahan tersebut juga dapat menjadi jebakan ketika digunakan untuk memenuhi gaya hidup dan keinginan sesaat.

Mentor Castle Rock Indonesia, Hanung Mirza, S.Si., mengatakan keputusan menggunakan paylater kerap dipengaruhi oleh kemudahan akses serta dorongan untuk segera memiliki barang yang sedang diinginkan.

Menurutnya, anak muda perlu membangun kebiasaan mengatur keuangan sejak dini dengan membedakan kebutuhan dan keinginan.

“Belilah yang butuh. Kalau nggak ada butuh, disisain buat tabung,” ujar Hanung kepada RRI, Jumat (14/8/2026)

Sementara itu, Renny Wahyu, S.Psi., menilai gaya hidup dan keinginan mendapatkan pengakuan dari lingkungan dapat menjadi salah satu pemicu seseorang menggunakan utang untuk memenuhi keinginannya.

“Gaya hidup sih, lebih tepatnya,” kata Renny.

Dorongan tersebut semakin kuat ketika seseorang mengalami Fear of Missing Out atau FOMO. Keinginan mengikuti tren, promo, maupun barang yang dimiliki teman dapat membuat seseorang melakukan pembelian meski sebenarnya tidak membutuhkan barang tersebut.

Renny mengatakan pencarian validasi melalui gaya hidup juga dapat membuat seseorang terus menaikkan standar hidupnya.

“Kalau batasnya kamu, kemampuan segitu, ya jangan terlalu naik-naik. Jangan memaksa,” ujarnya.

Karena itu, ada sejumlah langkah yang dapat dilakukan anak muda agar tidak terjebak paylater. Pertama, pastikan barang yang dibeli benar-benar kebutuhan, bukan sekadar keinginan. Kedua, jangan mengambil keputusan karena FOMO atau tergiur promo. Ketiga, sesuaikan gaya hidup dengan kemampuan finansial.

Selain itu, membiasakan menabung juga dinilai penting. Hanung menilai edukasi finansial perlu diberikan sejak usia sekolah agar anak muda memahami risiko utang sebelum menggunakan layanan keuangan digital.

“Harusnya dari SMA itu memang diajarin bahayanya paylater,” kata Hanung.

Risiko paylater juga tidak berhenti pada persoalan pembayaran cicilan. Dalam pembahasan tersebut, narasumber menyinggung kemungkinan masalah finansial jangka panjang apabila seseorang terus menggunakan utang untuk menutup utang sebelumnya.

Karena itu, bagi yang sudah mulai kesulitan membayar, langkah pertama adalah menghentikan penambahan utang dan terbuka kepada orang tua atau orang yang dipercaya. Jangan sampai kebiasaan “gali lubang tutup lubang” justru membuat masalah finansial semakin panjang.

Dengan memahami kebutuhan, mengendalikan FOMO, dan menyesuaikan gaya hidup dengan kemampuan finansial, anak muda diharapkan dapat memanfaatkan layanan keuangan digital secara lebih bijak tanpa terjebak dalam utang konsumtif.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....