Hikmah di Balik Tradisi Lomba Kemerdekaan, Sarat Nilai Keagamaan
- 14 Agt 2026 12:37 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang - Di balik berbagai permainan dalam perayaan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia terdapat nilai edukasi dan pelajaran kehidupan yang dapat dikaitkan dengan ajaran Islam, mulai dari kesabaran, perjuangan, rasa syukur hingga pentingnya bekerja sama.
Hal tersebut disampaikan Ustaz Nur Cholis, S.E., dalam Cahyaning Ati bertema “Hikmah di Balik Tradisi Lomba Kemerdekaan”. Menurutnya, setiap permainan dalam tradisi lomba kemerdekaan memiliki makna yang dapat menjadi bahan refleksi dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
“Setiap permainan dalam tradisi lomba mengandung nilai-nilai edukasi keagamaan. Lomba bukan sekadar hiburan, tetapi bermakna dan berisikan kesabaran serta perjuangan,” ujar Ustaz Nur Cholis, Jumat (14/8/2026)
Salah satu contohnya adalah lomba balap karung. Menurut Ustaz Nur Cholis, permainan tersebut dapat dimaknai sebagai gambaran ketabahan dan kesabaran dalam menghadapi berbagai keterbatasan. Karung goni yang kerap digunakan dalam perlombaan juga sering dikaitkan dengan kondisi rakyat pada masa penjajahan.
Dalam balap karung, peserta harus bergerak dengan keterbatasan untuk mencapai garis finis. Tidak jarang peserta terjatuh dan harus kembali bangkit. Kondisi tersebut dinilai memiliki kesamaan dengan kehidupan manusia yang juga penuh dengan proses jatuh dan bangun.
Ia mengingatkan, ujian kehidupan tidak seharusnya membuat seseorang kehilangan harapan. Kegagalan bukan akhir dari kehidupan dan kesulitan bukan alasan untuk menyerah. Seorang muslim harus terus berikhtiar dan bertawakal kepada Allah SWT.
| Baca juga: Imlek Jadi Ruang Budaya dan Kebersamaan |
“Kalau jatuh, bangun. Kalau gagal, belajar. Kalau sulit, belajar dan terus berusaha. Itulah ikhtiar,” tuturnya.
Selain balap karung, hikmah juga dapat ditemukan dalam lomba makan kerupuk. Kerupuk merupakan makanan sederhana yang dekat dengan kehidupan masyarakat, sehingga perlombaan tersebut dapat menjadi momentum untuk mengingat dan mensyukuri rezeki yang diberikan Allah SWT.
Menurutnya, masih ada masyarakat yang menjalani kehidupan dengan makanan sederhana, termasuk kerupuk. Karena itu, lomba makan kerupuk dapat menjadi pengingat agar masyarakat tidak berlebihan dalam memandang rezeki dan senantiasa bersyukur atas apa yang telah diperoleh.
Sementara itu, lomba tarik tambang mengajarkan pentingnya kerja sama. Untuk memenangkan perlombaan, setiap peserta harus bergerak bersama dan mengerahkan kekuatan secara terkoordinasi. Nilai tersebut menggambarkan bahwa tujuan bersama akan lebih mudah dicapai ketika setiap orang bersedia bekerja sama.
Hal serupa terlihat dalam lomba panjat pinang. Peserta tidak mungkin mencapai tujuan hanya dengan mengandalkan kemampuan sendiri. Mereka harus saling membantu dan bekerja sama untuk mencapai bagian atas. Menurut Ustaz Nur Cholis, hal ini mengajarkan bahwa tujuan besar dalam kehidupan tidak selalu dapat dicapai seorang diri.
Adapun lomba balap bangkiak mengajarkan kekompakan dan keselarasan. Peserta harus memiliki koordinasi yang kuat agar dapat bergerak bersama menuju garis finis. Permainan ini menjadi gambaran bahwa tidak semua persoalan dapat diselesaikan dengan ego pribadi.
“Kita belajar bersabar, mendengarkan yang baik demi koordinasi yang baik, serta belajar mengalah demi kepentingan bersama,” jelasnya.
Ustaz Nur Cholis menegaskan, berbagai lomba kemerdekaan dapat menjadi sarana sederhana untuk menyampaikan nilai-nilai kehidupan dan keagamaan. Kesabaran, ikhtiar, tawakal, syukur, kerja sama, kepedulian dan kesediaan mengesampingkan ego merupakan pelajaran yang relevan untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....