Mahasiswa Asing Belajar Batik Blimbing, Kenalkan Budaya Malang ke Dunia

  • 12 Agt 2026 00:16 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang - Upaya mengenalkan seni dan budaya khas Malang kepada masyarakat internasional dilakukan melalui program pertukaran budaya yang melibatkan mahasiswa asing. Salah satunya melalui kegiatan AIESEC Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang mengajak mahasiswa asing belajar langsung membatik di Batik Blimbing Malang.

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari pengalaman pertukaran budaya sekaligus memperkenalkan batik sebagai salah satu warisan budaya Indonesia kepada generasi muda dari berbagai negara.

Batik Blimbing Malang yang dikelola Auliya Rismawati atau Ima menjadi salah satu lokasi edukasi budaya yang dikunjungi mahasiswa asing. Usaha yang dirintis sejak 2010 tersebut tidak hanya memproduksi kain batik, tetapi juga membuka pelatihan membatik menggunakan teknik tulis dan cap.

Ima mengatakan, kegiatan edukasi membatik telah diikuti mahasiswa dari berbagai daerah dan negara. Peserta yang datang antara lain berasal dari India, Pakistan, Tiongkok, Vietnam, Mesir hingga Jepang.

“Tempat kami kerap menjadi tujuan belajar bagi mahasiswa lokal maupun mancanegara. Kami pernah menyambut peserta dari berbagai negara yang sengaja datang untuk belajar membatik,” ujar Ima, Selasa (11/8/2026).

Salah seorang peserta, Niharika Davda, mahasiswa asal Gujarat India mengaku antusias mengikuti proses membatik. Dalam kegiatan tersebut, ia mendapat kesempatan mengenal penggunaan canting dan mencoba menggoreskan malam pada kain.

“Ini pengalaman pertama saya membatik dengan tangan. Awalnya terasa cukup panas karena bahannya, tetapi saya sangat senang dan takjub melihat hasilnya yang begitu indah,” ungkap Niharika.

Menurutnya, pengalaman tersebut memberikan pemahaman baru mengenai proses pembuatan batik sekaligus budaya yang melekat di dalamnya. Ia juga berencana membagikan pengalaman tersebut kepada teman-temannya di India.

“Saya tentu akan mengajak teman-teman di kampus untuk berkunjung kembali ke Malang dan mempelajari teknik membatik pada berbagai jenis kain,” katanya.

Ima menilai antusiasme mahasiswa asing menunjukkan bahwa batik memiliki daya tarik yang kuat sebagai sarana pertukaran budaya. Kegiatan semacam ini juga dapat memperluas pengenalan batik Malang kepada masyarakat internasional.

Selain memperkenalkan budaya, aktivitas edukasi membatik dinilai dapat memberikan dampak ekonomi bagi pelaku usaha dan masyarakat yang terlibat dalam ekosistem batik lokal. Wisatawan maupun mahasiswa yang mengikuti pelatihan tidak hanya memperoleh pengalaman budaya, tetapi juga berpotensi mengenal dan menggunakan produk batik lokal.

Ima berharap kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk media, dapat terus dikembangkan untuk memperluas edukasi mengenai batik sekaligus mendorong generasi muda ikut menjaga keberlangsungan warisan budaya tersebut.

“Kami berharap sinergi dengan berbagai pihak dapat kembali terbangun untuk membangkitkan minat dan kecintaan anak muda terhadap batik Nusantara,” ujarnya.

Melalui kegiatan pertukaran budaya seperti ini, batik tidak hanya diperkenalkan sebagai kain tradisional, tetapi juga menjadi medium untuk mempertemukan generasi muda dari berbagai negara dengan budaya dan identitas lokal Malang. (Dwi)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....