Budayawan: Seni, Budaya, dan Martabat Merupakan Tritunggal yang Tidak Bisa Dipisahk
- 24 Jun 2026 11:36 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang - Budayawan H. Joko Setiyono, ST., MT. menilai seni, budaya, dan martabat merupakan satu kesatuan yang saling berkaitan dalam kehidupan masyarakat. Ketiganya menjadi fondasi penting dalam membangun identitas dan karakter bangsa di tengah derasnya arus globalisasi.
Menurut Joko, seni pada hakikatnya merupakan produk nurani manusia yang melahirkan keindahan. Namun, sesuatu yang indah belum tentu disukai oleh semua orang karena setiap individu memiliki sudut pandang dan pengalaman yang berbeda.
"Seni adalah produk nurani yang melahirkan keindahan. Tetapi sesuatu yang indah belum tentu digemari semua orang. Biasanya seni akan diterima oleh mereka yang memiliki gelombang rasa yang sama," ujarnya kepada RRI dalam acara Obrolan Budaya, Rabu (24/6/2026).
Ia menjelaskan, martabat berkaitan dengan posisi seseorang sesuai fitrahnya. Martabat menunjukkan bagaimana sesuatu ditempatkan secara tepat sesuai nilai dan fungsinya dalam kehidupan.
"Martabat itu posisi kita pada fitrahnya. Misalnya kopiah, tidak mungkin diletakkan di lutut atau dengkul. Semua memiliki tempat dan kedudukannya masing-masing," katanya.
Sementara itu, budaya berasal dari kata budi dan daya yang mencerminkan kemampuan manusia dalam mengolah cipta, rasa, dan karsa. Dari proses tersebut lahirlah berbagai bentuk karya, tradisi, dan nilai yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Joko menegaskan, martabat seseorang maupun suatu peradaban akan semakin tinggi apabila didukung oleh ilmu pengetahuan. Menurutnya, ilmu menjadi faktor penting dalam membentuk kualitas manusia dan kebudayaan.
"Sesuatu akan ditinggikan martabatnya karena ilmunya. Karena itu pendidikan dan pengetahuan menjadi hal yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat," ujarnya.
Ia juga menyoroti fenomena generasi muda yang saat ini lebih banyak mengenal budaya luar dibandingkan budaya daerah maupun budaya nasional. Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri dalam upaya pelestarian budaya bangsa.
Menurut Joko, perkembangan teknologi dan media sosial membuat berbagai budaya asing lebih mudah diakses dan diikuti oleh anak muda. Di sisi lain, banyak generasi muda yang berusaha tampil berbeda agar lebih mudah dikenal dan mendapat perhatian di lingkungan sosialnya.
"Rata-rata orang ingin tampil berbeda supaya mudah dikenal. Itu tidak salah, tetapi jangan sampai membuat mereka melupakan akar budaya dan jati dirinya sendiri," katanya.
Joko berharap generasi muda dapat tetap terbuka terhadap perkembangan budaya global tanpa meninggalkan nilai-nilai budaya lokal yang menjadi identitas bangsa. Dengan demikian, seni, budaya, dan martabat dapat terus terjaga serta berkembang seiring perubahan zaman.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....