Nyekar, Tradisi yang Terus Dilestarikan Masyarakat Pasuruan
- 21 Mar 2026 18:23 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Pasuruan - Nyekar, hingga kini menjadi tradisi yang tak pernah ditinggalkan oleh masyarakat saat Hari Raya Idulfitri.
Di Pasuruan, tradisi nyekar atau ziarah ke makam keluarga ada yang dilakukan sebelum lebaran. Tapi paling banyak dilaksanakan seusai Sholat Ied maupun unjung-unjung (silaturrahmi) ke sanak saudara di kampung halaman.
Seperti yang terlihat di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Purut 2, Kelurahan Purutrejo, Kecamatan Purworejo, Kota Pasuruan, Sabtu (20/3/2026).
Ratusan peziarah mengunjungi makam keluarganya. Ada makam orang tua, kakek nenek, paman bibi, atau bahkan saudara kandung para peziarah.
Mereka datang tak hanya memanjatkan doa untuk almarhum atau almarhumah yang berada di dalam alam kubur, namun juga membawa bunga, membersihkan makam hingga bersedekah bagi para petugas makam.
Mukhammad Amin, salah satu peziarah asal Kelurahan Blandongan mengungkapkan, nyekar menjadi hal wajib yang dilakukan setiap hari raya. Dengan membawa semua keluarga besar dan beramai-ramai, memanjatkan doa untuk kedua orang tua dan kakak kandungnya.
"Kami sampai bawa 30 orang. Karena kebetulan keluarga besar, jadi rame-rame nyekar ke makam bapak ibu dan kakak," ungkapnya.
Uniknya, tradisi nyekar seakan menjadi daftar kegiatan yang wajib dilakukan saat hari raya Idul Fitri.
Kata Amin, nyekar akan dilakukan sampai menunggu semua saudara berkumpul dengan formasi lengkap.
"Biar doanya rame-rame meski lama tidak apa-apa," singkatnya.
Dengan begitu, nyekar menghadirkan ruang sunyi yang mengingatkan pada satu hal sederhana. Bahwa hidup tidak hanya tentang yang hadir hari ini, tetapi juga tentang mereka yang pernah membentuk perjalanan kita.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....