Silaturahmi Jadi Kunci Kerukunan Antarumat Beragama di Dusun Sawun

  • 18 Mar 2026 20:54 WIB
  •  Malang
Poin Utama
  • kerukunan antarumat beragama di Dusun Sawun RT 3 RW 3 Desa Jedong, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang.
  • Umat Muslim menggelar halal bihalal setelah Idul Fitri, sementara umat Hindu melaksanakan dharma santi sebagai momentum saling memaafkan.

RRI.CO.ID, Malang- Komunikasi dan kebiasaan saling berkunjung menjadi kunci terjaganya kerukunan antarumat beragama di Dusun Sawun RT 3 RW 3 Desa Jedong, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang. Warga Hindu dan Muslim di wilayah tersebut membangun hubungan harmonis melalui interaksi sosial yang sederhana namun konsisten dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.

Salah satu warga dan tokoh masyarakat agama Hindu, Dimas Sujono (46) mengatakan bentuk toleransi tidak hanya terlihat dalam kegiatan keagamaan, tetapi juga dalam kebiasaan saling menghadiri acara tetangga dengan membawa buah tangan sebagai simbol kepedulian.

“Kalau kami berpartisipasi tidak hanya datang, biasanya membawa oleh-oleh seperti beras, gula, atau makanan. Itu wujud toleransi,” ujarnya kepada RRI, Rabu (18/3/2026)

Menurut Dimas, tradisi silaturahmi juga terlihat dalam perayaan hari besar masing-masing agama. Umat Muslim menggelar halal bihalal setelah Idul Fitri, sementara umat Hindu melaksanakan dharma santi sebagai momentum saling memaafkan.

Ia menambahkan, kebiasaan berkunjung bahkan sudah dilakukan sejak sebelum warga Muslim pulang dari masjid saat Hari Raya Idul Fitri. Hal tersebut membuat suasana perayaan menjadi lebih meriah sekaligus mempererat hubungan antarwarga.

Selain itu, rangkaian Hari Raya Nyepi juga melibatkan aktivitas keagamaan yang terbuka untuk diketahui masyarakat sekitar. Beberapa hari sebelum Nyepi, umat Hindu melaksanakan upacara Melasti di pantai sebagai bentuk penyucian diri dan alam semesta dengan mempersembahkan hasil bumi.

Di wilayah Malang, kegiatan tersebut biasanya dilakukan di Pantai Balekambang, sementara di daerah lain dapat dilaksanakan di gunung, seperti di kawasan Bromo, sekitar tiga hingga lima hari sebelum Nyepi.

Sehari sebelum Nyepi, umat Hindu melaksanakan Tawur Agung Kesanga yang ditandai dengan pawai ogoh-ogoh. Ritual ini bertujuan membersihkan alam semesta atau buana alit dan buana agung agar tercipta keseimbangan.

Pada Hari Nyepi, umat Hindu menjalani Catur Brata Penyepian selama 24 jam, yaitu tidak menyalakan api atau lampu, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak bersenang-senang sebagai bentuk introspeksi diri.

Setelah Nyepi, umat Hindu merayakan Ngembak Geni dengan berkumpul di pura untuk saling memaafkan. Warga biasanya membawa buah-buahan sesuai kemampuan masing-masing sebagai simbol kebersamaan.

Dimas menegaskan, seluruh rangkaian kegiatan tersebut tidak mengganggu kerukunan karena masyarakat saling memahami dan menghormati keyakinan masing-masing.

Ia berharap nilai toleransi dan kedamaian yang telah terbangun dapat menjadi contoh bagi masyarakat luas. Menurutnya, mengakui dan menghargai perbedaan kepercayaan akan menciptakan kehidupan yang aman dan tenteram.

“Kalau saling mendukung, kebersamaan akan lebih baik sehingga keharmonisan dan keamanan bisa terjaga,” ujarnya.

Kerukunan yang terjalin di Dusun Sawun menunjukkan bahwa komunikasi yang baik dan sikap saling menghormati dapat memperkuat persatuan masyarakat di tengah keberagaman.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....