Hakekat Orang yang Bangkrut Menurut Rasulullah
- 22 Sep 2026 16:04 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang: Makna kebangkrutan dalam Islam tidak hanya berkaitan dengan hilangnya harta atau tidak memiliki kekayaan. Ustadz Dr. H. M. Amsiyono Q.A., SH, S.Ag, M.Sy menjelaskan, Rasulullah SAW justru mengingatkan bahwa orang yang benar-benar bangkrut adalah mereka yang datang pada hari kiamat membawa banyak pahala ibadah, tetapi kehilangan seluruh kebaikannya karena pernah menzalimi dan merugikan orang lain.
Menurut Ustadz Amsiyono, Rasulullah SAW pernah bertanya kepada para sahabat mengenai siapa orang yang disebut bangkrut. Para sahabat menjawab bahwa orang bangkrut adalah mereka yang tidak memiliki dirham maupun harta kekayaan. Namun, Rasulullah SAW memberikan penjelasan yang berbeda. “Sesungguhnya orang bangkrut dari umatku adalah mereka yang akan datang pada hari kiamat dengan pahala salat, pahala puasa, dan pahala zakat,” jelasnya dalam Mutiara Pagi pada Kamis (17/9/2026).
Ia menerangkan, pada hari kiamat orang tersebut tidak hanya datang membawa pahala ibadah, tetapi juga dihadapkan dengan orang-orang yang pernah menjadi korban perbuatannya. Mereka adalah orang yang pernah dicaci maki, disakiti, dituduh, hartanya diambil, hingga orang yang darahnya ditumpahkan. “Maka diberikanlah kebaikan atau pahala orang yang beriman kepada orang yang dicaci maki, kepada korban-korbannya,” ungkap Ustadz Amsiyono.
Menurutnya, pahala yang selama ini dikumpulkan melalui ibadah dapat berpindah kepada orang-orang yang pernah dizalimi apabila persoalan tersebut tidak diselesaikan. Bahkan, ketika pahala orang tersebut telah habis sementara masih ada korban yang menuntut haknya, dosa para korban dapat dibebankan kepadanya. Kondisi inilah yang menjadi gambaran kebangkrutan yang sesungguhnya. “Sampai habis. Tetapi di belakang masih ada yang menuntut, maka dosa milik korban diberikan kepada orang yang berpahala. Karena minus dan bangkrut,” jelasnya.
Ustadz Amsiyono menegaskan, ajaran Islam tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Allah atau habluminallah, tetapi juga hubungan antarsesama manusia atau habluminannas. Karena itu, kesungguhan dalam menjalankan salat, puasa, zakat dan ibadah lainnya perlu diiringi dengan menjaga ucapan, perbuatan, serta hak orang lain. “Islam mengajarkan kita tidak hanya ibadah habluminallah, tapi juga habluminannas,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan agar umat Islam menjauhi segala bentuk kezaliman, termasuk membuat tuduhan atau dusta yang merugikan orang lain. Menurutnya, Al-Qur’an memberikan peringatan keras kepada orang-orang yang melakukan kezaliman dan kebohongan. Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa kualitas ibadah tidak dapat dipisahkan dari perilaku terhadap sesama, sebab hak manusia yang dilanggar dapat menjadi persoalan yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....