Kekayaan Tak Hanya Diukur dari Banyaknya Harta

  • 15 Sep 2026 14:48 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang — Kekayaan tidak selalu identik dengan banyaknya harta, begitu pula kondisi sederhana tidak selalu berarti seseorang hidup dalam kekurangan. Ketenangan hati, kedekatan kepada Allah dan kemampuan menggunakan rezeki untuk kebaikan justru menjadi bagian penting dalam memaknai kaya dan miskin.

Hal tersebut disampaikan Ustazah Dewi Latifah dalam acara Mutiara Pagi Pro 1 RRI Malang, saat membahas lima pilihan yang dapat menjadi gambaran kehidupan orang fakir dan orang kaya. Menurutnya, istilah fakir dalam pembahasan tersebut tidak hanya merujuk pada kondisi ekonomi, tetapi lebih kepada kesadaran manusia bahwa dirinya membutuhkan rahmat dan pertolongan Allah.

Ustazah Dewi menjelaskan, orang yang hidup sederhana dapat memiliki ketenangan karena tidak menjadikan harta sebagai pusat kehidupannya. Ia tetap bekerja dan memenuhi kebutuhan sehari-hari, namun tidak membiarkan keinginan terhadap dunia membuat dirinya kehilangan ketenteraman.

“Jadi orang yang fakir itu orang yang butuh kepada rahmate Gusti Allah, dia tenang hidupnya,” kata Ustazah Latifah saat dikonfirmasi, Selasa (15/9/2026).

Sebaliknya, seseorang yang memiliki banyak harta belum tentu merasakan kehidupan yang lebih ringan. Kekayaan yang terus dikejar tanpa disertai pengendalian diri dapat membuat seseorang sibuk memikirkan uang, pekerjaan, kebutuhan yang semakin banyak, hingga berbagai kewajiban yang harus dipertanggungjawabkan.

Karena itu, Ustazah mengingatkan agar masyarakat tidak menjadikan pencapaian materi sebagai ukuran utama keberhasilan hidup. Harta tetap boleh dicari dan dinikmati, tetapi harus ditempatkan sebagai sarana untuk menjalankan kehidupan sekaligus mendekatkan diri kepada Allah.

Menurutnya, orang yang memiliki kemampuan ekonomi lebih besar justru mempunyai kesempatan lebih luas untuk berbagi. Zakat, infak dan sedekah tidak semestinya dipandang sebagai beban yang mengurangi kekayaan, melainkan bagian dari tanggung jawab atas rezeki yang diterima.

"Kebiasaan berbagi sebaiknya dibangun sejak seseorang memiliki rezeki dalam jumlah kecil. Dengan membiasakan diri mengeluarkan sebagian rezeki, diharapkan tidak mudah merasa berat ketika jumlah harta yang dimiliki semakin besar," jelas Ustazah Latifah.

Ia menambahkan, seseorang tidak perlu menunggu menjadi kaya untuk mulai membantu orang lain. Sedekah juga tidak harus selalu berupa uang, karena bantuan tenaga, pikiran maupun perhatian kepada sesama dapat menjadi bentuk kebaikan ketika dilakukan dengan niat yang benar.

Dalam dialog tersebut, Ustazah Latifah juga mengingatkan pentingnya membedakan antara qanaah dan pasrah karena malas. Menurutnya, qanaah bukan alasan untuk berhenti berusaha, melainkan sikap menerima ketentuan Allah setelah seseorang tetap berikhtiar dan berdoa.

Ia mengajak masyarakat untuk tidak terlalu larut mengejar kehidupan dunia hingga melupakan tujuan utama manusia. Menurutnya, semakin seseorang memahami bahwa harta hanyalah titipan, semakin mudah pula baginya menggunakan rezeki untuk sesuatu yang bermanfaat.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan bukan sekadar seberapa banyak yang berhasil dikumpulkan, tetapi seberapa baik seseorang menggunakan apa yang dimilikinya. Dengan keseimbangan antara ikhtiar, ibadah, rasa syukur dan kepedulian kepada sesama, kekayaan diharapkan tidak hanya memberi kenyamanan hidup, tetapi juga menjadi jalan menuju keberkahan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....