Cinta kepada Orang Tua Tak Berhenti meski Kematian Memisahkan

  • 14 Sep 2026 14:57 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang - Cinta dan bakti seorang anak kepada orang tua tidak berhenti ketika kematian datang. Pesan tersebut disampaikan Ustaz Nur Cholis, SE, dalam acara Cahyaning Ati Pro 4 RRI Malang, Jumat (11/9/2026) pagi. Ia mengangkat kisah Sa’d bin ‘Ubadah radhiyallahu ‘anhu yang menunjukkan bahwa seorang anak masih dapat melanjutkan baktinya kepada orang tua meski telah meninggal dunia.

“Ada kisah indah tentang Sa’d bin ‘Ubadah radhiyallahu ‘anhu yang mengajarkan bahwa cinta seorang anak kepada orang tua tidak berhenti ketika kematian datang,” katanya. Sa’d bin ‘Ubadah merupakan sahabat Rasulullah dari kalangan Anshar, berasal dari Bani Sa’idah, bagian dari Khazraj. Ia dikenal sebagai sosok yang dermawan dan gemar membantu sesama.

Dikisahkan, ketika ibu Sa’d meninggal dunia, ia sedang tidak berada di sisinya. Sa’d kemudian menemui Rasulullah dan bertanya apakah sedekah yang dilakukan atas nama ibunya akan memberikan manfaat. Rasulullah menjawab, “Ya.” Sa’d kemudian menjadikan kebunnya yang bernama Al-Mikhraf sebagai sedekah untuk ibunya. Kisah tersebut diriwayatkan Imam al-Bukhari dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma dalam Shahih al-Bukhari. Jawaban Rasulullah menjadi jalan bagi Sa’d untuk meneruskan baktinya melalui amal kebaikan atas nama sang ibu.

Menurut Nur Cholis, pelajaran dari kisah tersebut sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Saat orang tua masih hidup, anak sering merasakan kasih sayang dan pengorbanan mereka, tetapi setelah mereka tiada, barulah terasa bahwa kasih sayang tersebut tidak mungkin dibalas dengan materi. Karena itu, ketika berziarah atau berkumpul bersama keluarga, anak dianjurkan untuk mengenang kebaikan orang tua, mendoakan mereka, dan jika diberikan rezeki, bersedekah atas nama mereka sesuai tuntunan agama. “Tidak harus menunggu kaya, yang utama adalah keikhlasan,” pesannya.

Ia menambahkan, bagi sebagian masyarakat Jawa, Jumat Legi dapat menjadi momentum untuk bersilaturahmi, berkumpul bersama keluarga, berziarah, sekaligus mengingat anggota keluarga yang telah lebih dahulu meninggal dunia. Namun, Jumat Legi bukan satu-satunya waktu untuk mendoakan orang yang telah tiada karena doa dapat dipanjatkan kapan saja. Allah mengajarkan doa untuk kedua orang tua, “Rabbir hamhuma kama rabbayani shaghira,” yang berarti, “Wahai Tuhanku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka telah menyayangiku ketika aku masih kecil.” Doa tersebut menjadi pengingat bahwa bakti seorang anak tidak berakhir hanya karena orang tua telah wafat.

Nur Cholis mengingatkan, bagi mereka yang masih memiliki ayah dan ibu, jangan menunggu hari tertentu untuk membahagiakan dan menunjukkan kasih sayang kepada keduanya. Jangan menunggu sakit untuk datang, kehilangan untuk meminta maaf, atau kematian untuk mengatakan bahwa kita menyayangi mereka. Kisah Sa’d bin ‘Ubadah mengajarkan bahwa kehilangan bukan berarti berhenti mencintai, kematian bukan berarti berhenti berbuat baik, dan perpisahan bukan berarti berhenti mendoakan. Cinta seorang anak dapat terus hadir melalui doa yang tulus, sedekah, amal kebaikan, dan menjaga silaturahmi keluarga. Semoga Allah mengampuni orang tua kita, melapangkan kubur mereka, menerima amal baik mereka, serta menjadikan kita anak yang senantiasa berbakti, baik ketika orang tua masih hidup maupun setelah mereka kembali kepada-Nya.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....