Nabi Adam Iri dengan Umat Nabi Muhammad SAW
- 24 Agt 2026 12:24 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang- Ustadzah Hj. Dewi Latifah menyampaikan kisah tentang Nabi Adam AS yang disebut merasa iri terhadap umat Nabi Muhammad SAW karena memperoleh sejumlah kehormatan dari Allah SWT. Keistimewaan tersebut berkaitan dengan luasnya kesempatan umat Nabi Muhammad SAW untuk mendapatkan ampunan, ditutup aibnya, serta diberi kesempatan bertobat meskipun telah melakukan dosa.
Menurut Ustadzah Latifah, salah satu keistimewaan umat Nabi Muhammad SAW adalah kesempatan bertobat yang tidak terbatas pada tempat tertentu. Ia menjelaskan bahwa Nabi Adam AS mendapatkan penerimaan tobat di Makkah, sementara umat Nabi Muhammad SAW dapat memohon ampun kepada Allah di mana pun berada. “Tobatku diterima di Mekkah, tapi umat Muhammad diterima tobatnya dimanapun,” ujar Ustadzah Dewi Latifah dalam Mutiara Pagi pada Senin (24/8/2026).
Keistimewaan lainnya, Allah SWT masih menutup aib dan memberikan pakaian kepada umat Nabi Muhammad SAW meskipun mereka melakukan maksiat. Hal itu berbeda dengan kisah Nabi Adam AS yang, menurut riwayat yang disampaikan Ustadzah Dewi, mengalami keadaan berbeda setelah melakukan kesalahan. “Aku pakai baju, ketika maksiat bajuku langsung dilepas oleh Allah, umat Muhammad berbuat maksiat tapi masih mendapat pakaian,” jelasnya.
Ustadzah Latifah juga menyampaikan bahwa umat Nabi Muhammad SAW tetap memperoleh nikmat kehidupan meskipun pernah melakukan dosa. Rezeki dan kesehatan masih diberikan, sementara dosa seseorang tidak serta-merta diperlihatkan kepada orang lain. “Dosa tidak ditampakkan kepadanya, karena mendapat rahmat rahim dari Allah,” katanya.
Menurutnya, hal tersebut menunjukkan betapa luasnya rahmat Allah SWT kepada manusia. Bahkan, seseorang yang melakukan dosa tidak selalu langsung mendapatkan balasan, sehingga masih memiliki waktu untuk menyadari kesalahan dan kembali kepada Allah melalui pertobatan. Kesempatan tersebut, kata dia, semestinya tidak dimanfaatkan untuk terus melakukan kemaksiatan.
Ustadzah Latifah mengingatkan bahwa berbagai kemudahan yang diberikan Allah bukan berarti dosa mendapatkan pembenaran. Sebaliknya, rezeki, kesehatan, tertutupnya aib, dan kesempatan hidup harus menjadi momentum untuk memperbaiki diri. “Aku tidak menciptakan manusia dan jin selain untuk ibadah kepada-Ku,” tuturnya, mengutip firman Allah SWT dalam QS Adz-Dzariyat ayat 56.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....