Mahasiswa Internasional Belajar Kerajinan Keramik di UMKM Matahati Batu
- 21 Agt 2026 09:34 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang - AIESEC in Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali memperkenalkan budaya lokal kepada mahasiswa internasional melalui program Incoming Global Volunteer (IGV). Kali ini, para peserta diajak mengunjungi UMKM Matahati di Kota Batu untuk mengenal sekaligus mempraktikkan pembuatan keramik berbahan tanah liat, Kamis (20/8/2026).
Kegiatan yang dikemas dalam agenda On The Map (OTM) tersebut bertujuan mengenalkan potensi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta warisan budaya Indonesia melalui pengalaman belajar secara langsung.
Dalam kunjungan itu, para Exchange Participant (EP) tidak hanya mempelajari profil UMKM Matahati dan mengamati berbagai produk kerajinan yang dihasilkan, tetapi juga mengikuti praktik pembuatan keramik mulai dari proses dasar hingga menjadi karya seni.
Program tersebut diikuti mahasiswa dari berbagai negara, di antaranya Kareem Zahaf dari Tunisia, Kush Shah dari India, Li Shuangli dari Tiongkok, serta Abdelrahman dari Mesir. Mereka didampingi para Local Volunteer (LV) AIESEC in UMM selama kegiatan berlangsung.
Organizing Committee President (OCP) kegiatan, Madu Bunga Lakey, menilai kunjungan tersebut memberikan pengalaman berharga bagi peserta dalam memahami peran UMKM dalam mengembangkan produk sekaligus menjaga kelestarian budaya lokal.
"Pengalaman di UMKM Matahati sangat berkesan. Kami mendapatkan banyak wawasan baru mengenai operasional UMKM dalam mengembangkan produk sekaligus melestarikan budaya lokal," tuturnya, Jumat (21/8/2026).
Menurut Madu, suasana kekeluargaan yang terbangun selama kegiatan menjadi nilai tambah yang memperkuat pengalaman para peserta.
"Kehangatan sambutan yang kami terima setiap berkunjung membuat pengalaman ini terasa istimewa. Selalu ada ragam aktivitas menarik yang dapat dilakukan bersama," jelasnya.
Kesan serupa disampaikan Abdelrahman, peserta asal Mesir. Ia mengaku memperoleh pengalaman yang lebih dari sekadar pelaksanaan program pertukaran budaya.
"Setiap kunjungan terasa lebih dari sekadar pelaksanaan program OTM. Kami dapat berinteraksi secara mendalam, bertemu relasi baru, serta belajar sambil bersenang-senang. Suasana kekeluargaan inilah yang menjadikan momen di Matahati sangat tak terlupakan," ungkapnya.
Sementara itu, perwakilan tim Organizing Committee (OC) proyek IGV, Deva Anastasia, mengatakan kegiatan tersebut dirancang untuk mempertemukan peserta internasional dengan budaya Indonesia melalui pengalaman yang lebih nyata.
"Agenda ini lebih dari sekadar rekreasi. Kami memfasilitasi para EP untuk melihat langsung proses pembuatan kerajinan lokal agar mereka dapat mengenal budaya Indonesia melalui pengalaman yang lebih nyata," papar Deva.
Ia menambahkan, proses membentuk kerajinan dari tanah liat juga mengajarkan nilai kesabaran, ketelitian, dan kreativitas. Selain itu, kegiatan tersebut menjadi sarana pengembangan kemampuan komunikasi lintas budaya bagi panitia maupun peserta.
Menutup rangkaian kegiatan, seluruh peserta dan panitia berharap program serupa dapat terus berlanjut sebagai wadah pertukaran budaya dan penguatan jejaring internasional.
"Kami berharap inisiatif seperti ini dapat terus berjalan secara berkesinambungan.
OTM tidak hanya berfungsi sebagai medium pengenalan budaya, melainkan juga wadah strategis untuk membangun koneksi, berbagi pengalaman, dan saling belajar," tutup Madu. (dwi)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....