Hakikat Kemerdekaan dalam Islam: Bukan Sekadar Bebas dari Penjajahan
- 21 Agt 2026 16:53 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang - Peringatan 81 tahun kemerdekaan Republik Indonesia menjadi momentum untuk kembali memahami makna kemerdekaan secara lebih mendalam. Dalam program Mutiara Pagi baru-baru ini, Ustaz Moh. Rosyad, M.Si., mengajak masyarakat tidak hanya memaknai kemerdekaan sebagai terbebas dari penjajahan secara fisik, tetapi juga sebagai kesempatan untuk membangun kehidupan yang adil, aman, dan bertanggung jawab.
"Kemerdekaan merupakan salah satu nikmat Allah yang patut disyukuri. Rasa syukur tidak cukup hanya diucapkan, tetapi perlu diwujudkan melalui tindakan yang menjaga persatuan, kehidupan berbangsa, serta mengisi kemerdekaan dengan hal-hal yang bermanfaat," ujarnya saat dikonfirmasi RRI, Kamis (20/8/2026).
Ia menjelaskan, kemerdekaan secara sederhana dapat dimaknai sebagai kebebasan. Namun, kebebasan seseorang tidak boleh menghilangkan kebebasan orang lain.
| Baca juga: Memaknai Hijrah dalam Kehidupan Kekinian |
"Karena itu, dalam perspektif Islam, kebebasan bukan berarti bebas melakukan segala sesuatu tanpa batas, melainkan kebebasan yang tetap tunduk pada aturan dan mempertimbangkan hak sesama," katanya.
Pembahasan tersebut juga dikaitkan dengan Pembukaan UUD 1945 yang menyebut bahwa kemerdekaan merupakan hak segala bangsa. Menurut Ustaz Rosyad, pemahaman terhadap sejarah menjadi penting agar generasi saat ini mengetahui bahwa kemerdekaan Indonesia tidak hanya lahir dari perjuangan fisik, tetapi juga memiliki landasan nilai dan spiritualitas.
Ia mencontohkan bahwa Pembukaan UUD 1945 juga menegaskan kemerdekaan Indonesia sebagai sesuatu yang terjadi atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan didorong oleh keinginan luhur. Artinya, kemerdekaan membutuhkan keyakinan sekaligus ikhtiar nyata.
Dalam kehidupan bermasyarakat, kebebasan berpendapat juga menjadi bagian dari kemerdekaan. Namun, kebebasan tersebut tetap memiliki batas, terutama agar tidak berubah menjadi penghinaan, fitnah, atau tindakan yang merugikan orang lain.
"Menyampaikan kritik dan mengingatkan pemimpin merupakan bagian dari upaya mengisi kemerdekaan, selama dilakukan dengan cara yang baik dan tidak memfitnah," ujarnya.
Ustaz Rosyad juga menyoroti persoalan ketidakadilan ekonomi dan korupsi. Menurutnya, masyarakat akan sulit merasakan kemerdekaan apabila kekayaan negara yang seharusnya memberikan kesejahteraan justru disalahgunakan atau dikuasai secara tidak adil.
Ia pun mengingatkan bahwa memperingati kemerdekaan seharusnya tidak berhenti pada kegiatan seremonial seperti upacara dan memasang bendera. Kemerdekaan dapat disyukuri dengan memperkuat persatuan, mendoakan para pahlawan, mendoakan bangsa dan para pemimpin agar amanah, serta ikut mengawasi jalannya pemerintahan.
Menutup pembicaraan, Ustaz Rosyad menegaskan bahwa hakikat kemerdekaan adalah kebebasan yang tidak membuat orang lain kehilangan kebebasannya. Kemerdekaan juga perlu diisi dengan ketaatan kepada aturan, tanggung jawab sosial, serta upaya menciptakan kehidupan berbangsa yang semakin adil, aman, dan sejahtera.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....