Ustazah Rukmini Amar Soroti Kejujuran, Riba dan Moral Bangsa
- 19 Agt 2026 15:08 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang - Persoalan kejujuran, praktik ekonomi dan kualitas kehidupan sosial menjadi bagian penting dalam pembahasan Tausiyah Mutiara Pagi Pro 1 RRI Malang.
Ustazah Hajah Dra. Rukmini Amar, M.Ap., yang hadir sebagai narasumber dengan tema “Doa untuk Negeri dan Generasi Bangsa”, menekankan bahwa membangun generasi yang jujur harus dimulai sejak lingkungan keluarga.
Pernyataan tersebut disampaikan Rukmini saat menjawab pertanyaan pendengar mengenai seberapa besar pengaruh keluarga terhadap pembentukan karakter anak, khususnya kejujuran.
Menurutnya, anak memiliki kecenderungan kepada kebenaran dan kebaikan sejak lahir. Karena itu, tugas orang tua adalah mengembangkan potensi tersebut melalui pendidikan dan keteladanan.
Ia menilai usia anak-anak merupakan fase penting dalam pembentukan karakter. Orang tua tidak hanya perlu mengajarkan teori mengenai benar dan salah, tetapi juga memperlihatkan praktik kejujuran dalam kehidupan sehari-hari.
Misalnya, ketika seorang anak membawa barang milik orang lain, orang tua perlu mengajarkan apakah barang tersebut sudah mendapatkan izin untuk dipinjam atau belum.
“Pembentukan kejujuran itu mulai dari kecil,” kata Rukmini, Rabu (19/8/2026).
Menurutnya, ketika anak semakin besar, pendidikan karakter lebih banyak berfungsi sebagai pengingat terhadap “rambu-rambu” kehidupan. Fondasi karakter tetap perlu dibangun sejak usia dini.
Selain kejujuran, persoalan riba menjadi salah satu topik yang banyak ditanyakan pendengar dalam dialog tersebut.
Seorang pendengar dari Dau, Kabupaten Malang, meminta penjelasan mengenai bagaimana membedakan kebutuhan mendesak dan keinginan agar tidak terjebak dalam transaksi yang mengandung riba.
Rukmini menjelaskan bahwa seseorang perlu membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Menurutnya, pinjaman untuk kebutuhan yang benar-benar diperlukan perlu ditempatkan berbeda dengan pinjaman untuk memenuhi keinginan yang sebenarnya masih dapat ditunda.
Ia juga menekankan pentingnya memahami akad dalam transaksi.
Menurut Rukmini, bentuk transaksi perlu jelas sejak awal, termasuk apakah suatu transaksi merupakan jual beli secara kredit atau pinjaman. Perbedaan akad tersebut menjadi penting karena menentukan konsekuensi transaksi yang dilakukan.
“Akad itu menentukan sama dengan perbuatan kita,” ujarnya.
Ia memberikan gambaran sederhana mengenai transaksi jual beli secara kredit. Menurutnya, jual beli dengan pembayaran yang ditunda dapat dilakukan apabila sejak awal akadnya memang merupakan jual beli kredit dengan ketentuan yang jelas. Namun, ketika akad yang dilakukan sebenarnya merupakan utang-piutang, persoalannya menjadi berbeda.
Karena itu, masyarakat diminta berhati-hati dalam melakukan transaksi dan tidak hanya melihat nominal yang harus dibayarkan.
Pertanyaan serupa kembali muncul dari pendengar mengenai kegiatan simpan pinjam di lingkungan PKK. Pendengar tersebut mempertanyakan apakah pembagian hasil kepada anggota otomatis termasuk riba.
Rukmini kembali menekankan bahwa jawabannya bergantung pada akad dan mekanisme yang digunakan.
Jika kegiatan tersebut benar-benar merupakan bentuk tolong-menolong untuk memenuhi kebutuhan, menurutnya tidak semestinya dibebani tambahan pembayaran yang ditetapkan sebagai kewajiban.
Sementara itu, untuk pembiayaan usaha, ia menjelaskan pentingnya mekanisme bagi hasil dan pembagian risiko yang jelas.
Menurutnya, apabila seseorang meminjam modal untuk menjalankan usaha, keuntungan dapat dibicarakan dan dibagi berdasarkan akad yang disepakati. Sebaliknya, apabila usaha mengalami kerugian, mekanisme pembagian risiko juga perlu diperhitungkan.
“Kalau rugi ditanggung bersama, harusnya begitu,” jelasnya.
Rukmini menilai prinsip kejujuran menjadi bagian penting dalam mekanisme tersebut. Jangan sampai seseorang menyatakan mengalami kerugian ketika sebenarnya tidak mengalami kerugian, hanya untuk menghindari kewajibannya.
Dalam sesi lainnya, seorang pendengar meminta pandangan mengenai cara menggunakan sisa umur untuk memperbaiki kesalahan masa lalu agar tidak menjadi penyesalan di akhirat.
Rukmini menyarankan agar seseorang melakukan taubat dengan sungguh-sungguh. Ia menyebut beberapa langkah, antara lain mengakui kesalahan, berkomitmen tidak mengulanginya, memperbanyak zikir dan istigfar, serta menutupi kesalahan dengan memperbanyak amal kebaikan.
Jika kesalahan berkaitan dengan orang lain, menurutnya, seseorang perlu berusaha memperbaiki hubungan, meminta maaf dan meminta keikhlasan pihak yang pernah dirugikan atau disakiti.
Ia juga mengingatkan pentingnya memperbanyak amal kebaikan selama masih memiliki kesempatan hidup.
“Kain kafan tidak ada sakunya, enggak bisa kita bawa buku tabungan,” ujarnya.
Pesan tersebut menjadi pengingat agar harta yang dimiliki tidak hanya dikumpulkan, tetapi juga dimanfaatkan untuk kebaikan.
Pembahasan kemudian berkembang pada pertanyaan mengenai hakikat kemerdekaan di tengah persoalan sosial yang masih dirasakan masyarakat.
Salah seorang pendengar mempertanyakan apakah kemerdekaan Indonesia yang telah berusia 81 tahun sudah benar-benar dirasakan seluruh lapisan masyarakat. Ia menyinggung persoalan kesenjangan ekonomi, hukum, kesehatan serta kesejahteraan masyarakat kecil.
Menanggapi hal tersebut, Rukmini mengajak masyarakat membangun kepekaan hati. Ia mengutip doa Nabi Muhammad SAW yang memohon cahaya dan petunjuk kepada Allah dalam hati, pendengaran dan penglihatan.
Menurutnya, kepekaan terhadap persoalan masyarakat merupakan bagian penting dari kehidupan sosial. Ia mengingatkan bahaya kemunafikan dan hati yang tidak lagi peka terhadap keadaan sekitar.
Namun, pembenahan menurut Rukmini tidak cukup dengan hanya menunjuk kesalahan pihak lain.
Ia justru mengembalikan tanggung jawab tersebut kepada keluarga dan individu. Orang tua perlu mengingatkan anggota keluarga yang menjadi pejabat atau memiliki tanggung jawab publik agar tetap menjalankan amanah.
“Kalau mau bagus kembali kepada ibda binafsi, diri kita sendiri harus mampu menjadi uswah, teladan yang baik,” tegasnya.
Rangkaian pembahasan dalam Tausiyah Mutiara Pagi tersebut memperlihatkan satu benang merah: persoalan bangsa tidak hanya membutuhkan kritik, tetapi juga pembenahan dari manusia yang menjalankannya.
Kejujuran perlu ditanamkan sejak keluarga. Transaksi ekonomi perlu dijalankan dengan akad yang jelas. Harta perlu digunakan secara bertanggung jawab. Kesalahan perlu diikuti dengan upaya memperbaiki diri. Sementara mereka yang memiliki posisi dan tanggung jawab publik dituntut untuk menjaga amanah.
Karena itu, doa untuk negeri menurut Rukmini tidak berhenti pada permohonan agar Indonesia menjadi aman dan makmur. Doa tersebut juga harus disertai ikhtiar untuk melahirkan generasi yang memiliki karakter, kepekaan sosial dan kemampuan menjadi teladan.
Tausiyah kemudian ditutup dengan doa untuk negeri, para pejuang serta generasi bangsa agar Indonesia senantiasa memperoleh keamanan, keberkahan dan kebaikan, baik di dunia maupun di akhirat.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....