Tarhib dan Targhib Ramadhan, Sambut Ramadhan Tanpa Keluhan

  • 11 Feb 2026 06:18 WIB
  •  Malang

RRI.CO.D, Malang - Menyambut datangnya bulan suci Ramadhan hendaknya dilakukan dengan penuh kegembiraan dan kelapangan jiwa. Umat Islam dianjurkan untuk menyiapkan diri secara fisik maupun mental agar Ramadhan dijalani dengan semangat ibadah, bukan keluhan. Hal ini disampaikan Ustadzah Hj. Dra. Rukmini Amar, M.Ap dalam Mutiara Pagi tentang Tarhib dan Targhib Ramadhan yang mengajak umat menyambut bulan suci dengan rasa syukur dan bahagia.

Menurut Ustadzah Rukmini, Tarhib Ramadhan bermakna menyambut Ramadhan dengan suka cita, sementara Targhib Ramadhan adalah dorongan untuk meningkatkan kualitas ibadah dan amal saleh. “Ramadhan itu bukan bulan beban, tapi bulan hadiah dari Allah. Maka menyambutnya harus dengan hati senang, bukan dengan keluhan,” ucapnya kepada RRI pada Rabu (11/2/2026).

Ia mengingatkan hadis Rasulullah SAW yang diriwayatkan Imam Ahmad, saat Nabi menaiki mimbar dan mengucapkan ‘Amin’ di setiap anak tangga. Salah satu doa Jibril yang diaminkan Rasulullah adalah kerugian bagi orang yang hidup di bulan Ramadhan namun tidak mendapatkan ampunan dosa. “Ini peringatan keras bagi kita agar Ramadhan tidak berlalu sia-sia,” ujar Ustadzah Rukmini.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa tidak diampuninya dosa seseorang di bulan Ramadhan bisa disebabkan puasanya tidak bermakna. “Ada yang berpuasa hanya menahan lapar dan dahaga, tapi lisannya tetap bohong, hatinya kotor, dan perilakunya tidak dijaga,” ungkapnya. Padahal, puasa seharusnya menjadi sarana pendidikan akhlak dan pengendalian diri.

Ustadzah Rukmini juga mengutip hadis Rasulullah SAW riwayat Bukhari yang menegaskan bahwa Allah tidak membutuhkan lapar dan haus seseorang jika ia tidak meninggalkan kebohongan dan perbuatan dusta. “Puasa itu harus berfungsi, bukan sekadar formalitas. Maka penting bagi kita untuk belajar ilmu agar tahu apa saja yang merusak nilai puasa,” katanya.

Ia menutup dengan ajakan agar umat Islam memperbanyak ibadah, menjaga lisan, dan menghindari pertengkaran selama Ramadhan. “Kalau dimarahi, dicaci, Rasulullah mengajarkan kita cukup berkata ‘saya sedang berpuasa’. Inilah makna puasa yang sesungguhnya, agar Ramadhan menjadi bulan ampunan, bukan bulan penyesalan,” pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....