HUT ke-81 RI, Ustazah Rukmini Amar Ajak Doakan Negeri dan Generasi
- 19 Agt 2026 15:09 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang - Momentum peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia menjadi ruang refleksi bagi masyarakat untuk kembali memaknai arti kemerdekaan sekaligus mendoakan masa depan bangsa.
Pesan tersebut disampaikan Ustazah Hajah Dra. Rukmini Amar, M.Ap., dalam program Tausiyah Mutiara Pagi Pro 1 RRI Malang. Mengangkat tema “Doa untuk Negeri dan Generasi Bangsa”, Rukmini mengajak masyarakat tidak hanya mensyukuri kemerdekaan, tetapi juga menaruh perhatian pada karakter generasi yang akan melanjutkan kepemimpinan Indonesia.
Dalam tausiyahnya, Rukmini mengawali pembahasan dengan kisah Nabi Ibrahim AS ketika memasuki Kota Makkah. Salah satu doa yang dipanjatkan Nabi Ibrahim adalah agar negeri tersebut menjadi negeri yang aman, penduduknya memperoleh rezeki dan kehidupan yang makmur, serta memiliki keimanan kepada Allah SWT.
Menurutnya, tiga hal tersebut dapat menjadi gambaran mengenai kondisi ideal sebuah masyarakat, yakni keamanan, kemakmuran dan keimanan.
“Yang pertama adalah keamanan negeri, kemakmuran dan keimanan penduduknya,” ujar Rukmini dalam siaran tersebut, Rabu (19/8/2026).
Ia menjelaskan, persoalan kehidupan berbangsa tidak hanya berkaitan dengan aspek spiritual, tetapi juga menyentuh persoalan sosial dan ekonomi. Al-Qur’an, menurutnya, memberikan banyak perhatian terhadap persoalan seperti kemiskinan, kerusakan lingkungan, perilaku konsumtif, kecurangan dalam perdagangan hingga praktik riba.
Rukmini menyoroti perilaku berlebihan dalam konsumsi yang dapat menimbulkan kemubaziran. Ia juga mengingatkan pentingnya memastikan makanan dan harta yang diperoleh berasal dari sumber yang halal.
Selain itu, ia menyinggung praktik kecurangan dalam perdagangan, termasuk memberikan informasi yang tidak benar terhadap suatu produk. Menurutnya, persoalan “takaran” tidak semata-mata berkaitan dengan timbangan secara fisik, tetapi juga kejujuran dalam memberikan informasi kepada masyarakat.
“Tidak hanya sekadar timbangan atau takaran yang ditimbang, namun tidak menakar dengan kebenaran,” jelasnya.
Rukmini juga mengingatkan adanya ketimpangan dalam pola penggunaan harta. Di satu sisi terdapat perilaku boros, sementara di sisi lain ada kecenderungan terlalu kikir untuk hal-hal yang justru memiliki manfaat, seperti pendidikan.
Ia menilai masyarakat perlu kembali menempatkan kebutuhan pada skala prioritas dan tidak mudah terjebak pada keinginan yang muncul karena pengaruh lingkungan maupun iklan.
Kemerdekaan dan tanggung jawab membangun generasi
Dalam konteks peringatan kemerdekaan Indonesia, Rukmini mengajak masyarakat menjadikan momentum tersebut sebagai kesempatan untuk mendoakan lahirnya generasi penerus yang memiliki karakter kuat.
Ia berharap generasi yang kelak memimpin Indonesia bukan generasi yang hanya memikirkan kepentingan dirinya sendiri, tetapi memiliki kepedulian terhadap sesama dan kehidupan bangsa.
Terlebih, menurut Rukmini, perjuangan mempertahankan dan mengisi kemerdekaan harus disertai kesadaran bahwa manusia memiliki tanggung jawab moral terhadap kehidupan di sekitarnya.
Ia juga mengaitkan makna kemerdekaan dengan kemampuan seseorang untuk melepaskan diri dari berbagai bentuk keterikatan yang menjauhkan dirinya dari Tuhan.
Dalam pandangannya, sesuatu yang menghalangi kedekatan manusia dengan Allah dapat menjadi “berhala” dalam kehidupan modern. Karena itu, ia mengingatkan penggunaan telepon seluler, laptop maupun televisi agar tidak berlebihan hingga membuat manusia mengabaikan kewajiban spiritualnya.
“HP, laptop, TV kalau tidak dimanage dengan baik itu akan menjadi berhala bagi generasi ke depan,” tuturnya.
Menurut Rukmini, pembentukan karakter generasi bangsa tidak bisa dilepaskan dari peran keluarga. Orang tua menjadi pihak pertama yang memberikan contoh mengenai kejujuran, tanggung jawab dan kepedulian terhadap hak orang lain.
Ia menjelaskan, manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah yang cenderung kepada kebenaran, kejujuran, kebaikan dan keindahan. Potensi tersebut perlu dikembangkan sejak anak masih kecil.
Karakter, kata dia, terutama dibentuk sejak anak mulai mampu berkomunikasi dan memahami lingkungan sekitarnya. Orang tua perlu memberikan contoh sederhana dalam kehidupan sehari-hari, termasuk mengajarkan anak membedakan barang miliknya dan milik orang lain.
“Pembentukan kejujuran itu mulai dari kecil,” ujarnya.
Karena itu, pendidikan karakter menurut Rukmini tidak cukup hanya dilakukan melalui nasihat. Anak membutuhkan pendampingan sekaligus teladan nyata dari orang tua.
Di penghujung tausiyah, Rukmini mengajak masyarakat mendoakan Indonesia sekaligus mengenang jasa para pejuang yang telah mendahului generasi saat ini.
Ia mengajak pendengar memanjatkan doa agar Indonesia menjadi negeri yang aman, memperoleh keberkahan dan kesejahteraan, serta memiliki generasi penerus yang beriman dan mampu menjalankan amanah kepemimpinan.
Bagi Rukmini, kemerdekaan bukan sekadar terbebas dari penjajahan, melainkan juga menjadi kesempatan bagi setiap individu untuk memperbaiki diri dan membangun kehidupan yang lebih baik.
Momentum HUT ke-81 RI, menurutnya, harus menjadi pengingat bahwa masa depan bangsa sangat bergantung pada kualitas manusia yang mengisinya.
Karena itu, doa untuk negeri sekaligus menjadi doa untuk generasi bangsa: agar Indonesia tidak hanya tumbuh secara ekonomi, tetapi juga memiliki masyarakat yang jujur, peduli, bertanggung jawab dan berpegang pada nilai-nilai kebaikan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....