Dari Lomba Online, Janata Lavanya Jadi Dai Cilik Nasional
- 31 Jul 2026 12:33 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang - Berdiri di atas panggung dan berbicara di hadapan ratusan pasang mata bukan perkara mudah, terlebih bagi seorang anak. Namun, bagi Janata Lavanya, atau yang akrab disapa Vanya, panggung dakwah justru menjadi tempat untuk berbagi pesan kebaikan sekaligus menghadirkan pengalaman yang menyenangkan.
Dai cilik asal Pakis, Kabupaten Malang, ini kini semakin dikenal. Selain mengisi tausiyah di masjid dan sekolah-sekolah di Jawa Timur hingga Jawa Tengah, Vanya juga rutin menyampaikan ceramah melalui siaran UB TV dan RRI Malang.
Di balik deretan piala yang berhasil diraihnya, tersimpan cerita tentang ketekunan serta dukungan penuh dari keluarga. Langkah awalnya di dunia dakwah ternyata tidak dimulai dari panggung besar, melainkan dari depan layar gawai saat pandemi Covid-19 melanda.
"Mulai dari kelas 1 SD saat ada lomba da'i tingkat Malang Raya secara online, karena waktu itu sedang pandemi Covid-19," kenang Vanya saat berbincang dengan RRI, Senin (20/7/2026).
Keberanian tampil di usia dini itu menjadi titik awal perjalanan panjangnya. Memasuki kelas 2 SD, kemampuan Janata Lavanya Leticia Zulkarnain—nama lengkapnya—semakin berkembang. Gadis kelahiran 13 Agustus 2015 tersebut mengikuti Festival Anak Muslim (FAM) dan mulai mengumpulkan prestasi.
Ia berhasil meraih Juara 1 tingkat gugus, Juara 2 tingkat kecamatan dan kota, hingga Juara 2 tingkat provinsi. Setelah itu, berbagai gelar di tingkat nasional pun berhasil dibawanya pulang.
Meski memiliki jadwal dakwah yang padat, Vanya tetap mengutamakan pendidikan. Baginya, sekolah dan belajar tetap menjadi prioritas utama.
"Setiap hari sekolah sampai pukul empat sore, kemudian lanjut mengaji di TPQ dekat rumah. Setelah Maghrib belajar dan mengerjakan tugas sekolah," tuturnya.
Di sela kesibukan tersebut, Vanya juga meluangkan waktu untuk mengisi program dakwah di media.
"Kalau siaran di RRI Malang dan UB TV biasanya seminggu dua kali, setiap hari Rabu dan Jumat sore," katanya.
Berbagai undangan ceramah yang diterimanya menghadirkan pengalaman yang tak terlupakan. Salah satunya ketika peringatan Isra Mikraj, saat jadwal dakwahnya sangat padat.
"Saat Isra Mikraj ada sebelas sekolah yang mengundang saya untuk ceramah," ungkapnya.
Dari belasan undangan tersebut, ada satu pengalaman yang masih membekas hingga kini. Dalam sehari, Vanya harus mengisi ceramah di tiga sekolah berbeda.
"Saya ceramah di tiga sekolah mulai pagi sampai siang. Waktu itu diantar Abi naik motor. Jarak antar sekolah cukup jauh sehingga harus ngebut supaya tidak terlambat, tapi justru itu yang bikin seru," ceritanya sambil tersenyum.
Baginya, rasa lelah selama perjalanan terbayar ketika melihat teman-teman yang sudah menunggu kehadirannya.
"Kita harus datang tepat waktu agar tidak mengecewakan siswa-siswa yang sudah menunggu. Rasanya seperti petualangan yang menyenangkan," ujarnya.
Kepercayaan diri Vanya saat berdakwah tidak lepas dari dukungan kedua orang tuanya. Mereka menjadi tim yang selalu mendampingi setiap langkah sang putri.
"Alhamdulillah, Abi dan Mimih selalu mendukung penuh setiap saya berdakwah," ucapnya.
Menurut Vanya, ayah dan ibunya memiliki peran masing-masing dalam mempersiapkan setiap penampilan.
"Abi biasanya menyiapkan materi dakwah sekaligus melatih cara penyampaiannya. Kalau Mimih menyiapkan semua kebutuhan seperti busana yang akan dipakai," jelasnya.
Tak hanya itu, keduanya juga selalu memberikan evaluasi setiap kali Vanya selesai berlatih.
"Saat latihan, Abi dan Mimih selalu memberikan masukan supaya dakwah saya lebih menarik dan mudah dipahami," katanya.
Di usianya yang masih belia, Vanya memahami bahwa setiap prestasi membutuhkan proses panjang. Ia pun mengajak teman-teman seusianya untuk terus berusaha meraih cita-cita.
"Teman-teman harus berjuang keras untuk meraih cita-cita dan melakukannya dengan sungguh-sungguh. Ikuti nasihat guru dan orang tua," pesannya.
Ia juga mengingatkan agar tidak cepat merasa puas dengan apa yang telah dicapai.
"Jangan mudah menyerah dan jangan cepat puas, karena kita bisa menjadi lebih hebat dari yang kita bayangkan," tutupnya.
Kisah Janata Lavanya membuktikan bahwa usia bukanlah penghalang untuk menginspirasi banyak orang. Dengan disiplin, dukungan keluarga, dan semangat belajar yang terus dijaga, dai cilik asal Kabupaten Malang ini terus melangkah menyebarkan pesan kebaikan, dari satu panggung ke panggung lainnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....