Psikolog: Orang Tua Tak Harus Sempurna, yang Penting Introspeksi
- 13 Jul 2026 11:28 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang – Orang tua tidak dituntut menjadi sosok yang sempurna dalam mengasuh anak. Namun, kesediaan untuk mengakui kesalahan, melakukan introspeksi, dan memperbaiki pola pengasuhan dinilai menjadi kunci membangun hubungan yang sehat sekaligus mencegah terjadinya kekerasan terhadap anak.
Hal tersebut disampaikan Psikolog Mardliyatus Sa'diyah, S.Psi., M.Psi., Psikolog dalam program Obrolan Psikologi RRI Malang bertema "Deteksi Dini Kekerasan pada Anak", belum lama ini.
Menurut Mardliyatus, mendisiplinkan anak dengan memberikan batasan masih diperlukan dalam proses pengasuhan. Namun, orang tua harus mampu membedakan antara tindakan mendidik dan kekerasan yang dapat meninggalkan luka fisik maupun psikologis.
"Bagi saya, memberikan peringatan dengan nada yang lebih tegas itu masih diperlukan agar anak memahami batasan perilaku yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Tetapi jangan sampai meninggalkan luka fisik maupun luka psikologis," ujarnya saat dikonfirmasi RRI pada Jumat (10/7/2026).
Ia menjelaskan, setelah anak dimarahi atau ditegur, orang tua perlu memberikan kesempatan kepada anak untuk menenangkan emosinya. Setelah itu, komunikasi dua arah harus dibangun agar anak memahami alasan di balik teguran yang diberikan.
"Validasi emosinya terlebih dahulu. Biarkan anak menangis jika memang sedang sedih, kemudian ajak berbicara dan jelaskan mengapa orang tua bersikap seperti itu," katanya.
Mardliyatus juga mengingatkan pentingnya meminta maaf kepada anak apabila orang tua menyadari telah melakukan kesalahan dalam pengasuhan. Menurutnya, pengalaman yang kurang menyenangkan masih dapat diperbaiki melalui interaksi positif yang dibangun secara konsisten.
"Memori yang kurang baik bisa diperbaiki dengan pengalaman-pengalaman baru yang lebih baik. Orang tua tidak perlu gengsi untuk meminta maaf kepada anak," jelasnya.
Selain itu, ia menyarankan orang tua untuk tidak melampiaskan emosi kepada anak ketika sedang mengalami tekanan akibat pekerjaan maupun persoalan lainnya. Saat emosi memuncak, orang tua sebaiknya mengambil waktu sejenak untuk menenangkan diri sebelum kembali berkomunikasi dengan anak.
"Kalau memang sedang sangat emosi, lebih baik menyendiri sebentar untuk menenangkan diri agar tidak mengucapkan kalimat yang menyakiti atau bahkan melakukan kekerasan kepada anak," ujarnya.
Menurutnya, menjaga kesehatan mental orang tua juga menjadi bagian penting dalam menciptakan pola asuh yang sehat. Salah satunya dengan menyediakan waktu berkualitas bersama keluarga meskipun hanya dalam waktu singkat.
"Tidak harus liburan yang mahal. Tiga jam bersama keluarga, berjalan-jalan, naik motor, mengobrol, atau membeli jajanan sederhana bersama anak sudah bisa menjadi cara mengurangi stres sekaligus mempererat hubungan," tuturnya.
Mardliyatus juga mengingatkan agar orang tua tidak menghakimi ketika anak mulai bercerita. Anak membutuhkan ruang untuk menyampaikan perasaan tanpa langsung disalahkan ataupun dipotong pembicaraannya.
"Sering kali anak merasa tidak didengarkan karena orang tua berbicara sambil melakukan pekerjaan lain. Akibatnya anak merasa tidak diperhatikan dan akhirnya enggan bercerita lagi," katanya.
Mardliyatus berpesan agar setiap orang tua menyadari bahwa pengasuhan merupakan proses belajar sepanjang hayat. Kesalahan bisa saja terjadi, tetapi yang terpenting adalah kemauan untuk memperbaiki diri demi menciptakan rumah yang menjadi tempat paling aman bagi anak.
"Kita adalah pembelajar seumur hidup. Tidak apa-apa pernah salah dalam pengasuhan, tetapi yang terpenting adalah cepat menyadari, introspeksi, tidak mengulangi kesalahan, dan terus memperbaikinya agar keharmonisan keluarga bisa terwujud," pungkasnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....