RRI Pro 4 Malang Hidupkan Siaran Budaya lewat Humor, Dekatkan Tradisi dengan Genera

  • 09 Jul 2026 13:03 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang - Di tengah derasnya arus globalisasi dan dominasi media digital, siaran bertema kebudayaan kerap dipandang sebagai sesuatu yang kaku, kuno, dan kurang menarik bagi generasi muda. Namun, RRI Pro 4 Saluran Budaya Malang membuktikan anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar. Melalui pendekatan yang ringan, komunikatif, dan penuh humor, siaran budaya justru mampu menjadi ruang yang hangat sekaligus menghibur.

Salah satu sosok yang berperan besar menghadirkan nuansa tersebut adalah Mamik Dwi Purwaningsih, penyiar senior yang lebih dikenal masyarakat sebagai Budhe Mey. Dengan karakter yang ceplas-ceplos dan jenaka, ia menjadikan humor sebagai jembatan komunikasi untuk mendekatkan nilai-nilai budaya kepada pendengar, khususnya generasi muda.

"Menurut saya, humor saat siaran, apalagi di Programa 4 Saluran Budaya, sangat efektif untuk digunakan. Tujuannya membangun kedekatan emosi dengan pendengar, terutama pendengar muda. Maka kita dituntut untuk terus kreatif menciptakan siaran yang asyik dalam membahas budaya," ujar Mamik, Rabu (9/7/2026).

Sebagai programa yang mengemban misi pelestarian budaya, RRI Pro 4 menghadapi tantangan tersendiri. Di satu sisi, mayoritas pendengarnya merupakan kalangan dewasa berusia di atas 30 tahun. Di sisi lain, radio publik ini juga dituntut tetap relevan di tengah perubahan pola konsumsi media generasi muda.

Karena itu, penyiar tidak hanya dituntut menguasai materi kebudayaan, tetapi juga mampu menyampaikannya dengan bahasa yang santun, mudah dipahami, dan dekat dengan keseharian pendengar. Humor menjadi salah satu strategi agar pembahasan budaya terasa lebih ringan tanpa mengurangi makna dan nilai yang terkandung di dalamnya.

Bagi Mamik, siaran budaya di era modern bukan sekadar menyampaikan informasi tentang tradisi atau kesenian daerah. Lebih dari itu, penyiar memiliki tanggung jawab membangun cara pandang baru bahwa budaya merupakan identitas yang terus hidup dan berkembang bersama masyarakat.

"Tugas penyiar adalah mengemas nilai-nilai budaya dengan bahasa yang segar, menghadirkan cerita di balik setiap tradisi, hingga memberi ruang bagi generasi muda untuk bangga terhadap warisan leluhurnya," jelasnya.

Konsistensi RRI Pro 4 Malang menghadirkan siaran budaya yang komunikatif dan menghibur menunjukkan bahwa pelestarian budaya dapat dilakukan melalui pendekatan yang kreatif. Radio tidak hanya menjadi media penyampai informasi, tetapi juga ruang dialog yang menghubungkan masyarakat dengan akar budayanya.

Mamik meyakini, semakin dekat generasi muda dengan budayanya, semakin kuat pula rasa memiliki terhadap warisan bangsa.

"Ketika anak muda mengenal budayanya, mereka akan mencintainya dan menjaganya. Itulah peran penting penyiar: menjadi suara yang menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan," pungkas Mamik, yang akrab disapa Budhe Mey.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....