Semangat Hijrah di Era Modern

  • 28 Jun 2026 12:47 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang: Hijrah di era modern tidak lagi dimaknai sebatas perpindahan tempat sebagaimana yang dilakukan Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah. Lebih dari itu, hijrah menjadi sebuah proses perubahan diri menuju kehidupan yang lebih baik, baik dalam hubungan dengan Allah SWT maupun dalam kehidupan bermasyarakat. Pesan tersebut disampaikan Ustadzah Dra. Sukanah, M.Ag., Pimpinan Daerah Aisyiyah Kota Malang, dalam dialog bersama RRI Malang pada Sabtu (27/6/2026) yang menegaskan bahwa semangat hijrah saat ini harus diwujudkan melalui perubahan sikap, akhlak, hingga pola pikir yang lebih positif. Menurutnya, tantangan zaman modern justru menuntut umat Islam untuk mampu berhijrah dari perilaku negatif seperti kebohongan, korupsi, kemalasan, hingga sikap individualistis menuju pribadi yang lebih berintegritas dan bermanfaat bagi sesama.

Ustadzah Sukanah menjelaskan bahwa hijrah spiritual menjadi fondasi utama bagi setiap muslim. Hijrah spiritual berarti meninggalkan segala bentuk larangan Allah dan semakin mendekatkan diri kepada-Nya dengan memperbanyak ibadah serta menjalankan seluruh perintah-Nya. Ia mengingatkan bahwa perubahan tersebut harus lahir dari kesadaran hati, bukan sekadar mengikuti tren atau ingin mendapatkan pengakuan dari lingkungan. Menurutnya, kualitas hijrah seseorang akan terlihat dari semakin kuatnya hubungan dengan Allah serta semakin baiknya perilaku yang ditunjukkan dalam kehidupan sehari-hari.

"Hijrah bukan hanya mengubah cara berpakaian atau penampilan luar. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana seseorang meninggalkan apa yang dilarang Allah dan semakin mencintai ketaatan. Hijrah sejati dimulai dari hati, lalu tercermin dalam akhlak, ibadah, dan perilaku sehari-hari," ujar Ustadzah Sukanah.

Selain aspek spiritual, hijrah juga harus diwujudkan melalui perubahan akhlak dan pola pikir. Ustadzah Sukanah mengajak masyarakat meneladani Rasulullah SAW sebagaimana disebutkan dalam Surah Al-Ahzab ayat 21. Menurutnya, seseorang yang berhijrah semestinya berubah dari pribadi yang mudah marah menjadi penyabar, dari pendendam menjadi pemaaf, dari sombong menjadi rendah hati, serta dari pribadi yang gemar mengeluh menjadi pribadi yang optimistis. Ia mencontohkan kisah Rasulullah SAW yang menenangkan Abu Bakar di Gua Tsur melalui firman Allah dalam Surah At-Taubah ayat 40 sebagai bukti bahwa seorang mukmin harus memiliki keyakinan bahwa pertolongan Allah selalu menyertai orang-orang yang beriman.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa hijrah harus dibuktikan melalui perilaku nyata, baik di lingkungan kerja, keluarga, maupun masyarakat. Menurutnya, menjaga kejujuran, menolak korupsi, disiplin menjalankan salat tepat waktu, serta konsisten berbuat baik merupakan bentuk hijrah yang sangat relevan dengan kondisi saat ini. Di lingkungan keluarga, ia mendorong setiap orang tua untuk membiasakan salat berjamaah, membaca Al-Qur'an bersama, memperbanyak dialog, dan menjadi teladan bagi anak-anak. Baginya, keberhasilan seseorang tidak hanya dinilai dari citra yang tampak di ruang publik, tetapi juga dari bagaimana ia memperlakukan keluarganya di rumah.

"Hijrah yang berhasil akan melahirkan keluarga yang penuh kasih sayang dan masyarakat yang saling peduli. Ketika kita mampu menjaga kejujuran, meninggalkan korupsi, membantu fakir miskin, memperkuat gotong royong, serta menjaga persaudaraan, maka sesungguhnya kita sedang membangun peradaban Islam yang membawa rahmat bagi semua. Itulah makna hijrah yang sangat dibutuhkan di era modern," tutup Ustadzah Sukanah.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....