Haji Mabrur Menuntun Umat Menjadi Pribadi Qurani dan Semakin Mengenal Allah
- 06 Jun 2026 17:23 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang – Haji mabrur bukan sekadar keberhasilan menunaikan rukun Islam kelima, tetapi merupakan puncak perjalanan spiritual seorang hamba dalam mengenal Allah SWT. Hal tersebut disampaikan Ustaz Dedi N. Abdullah Tillu dalam program Cahyaning Ati di Pro 4 RRI Malang, Sabtu (6/6/2026), dengan tema “Haji Mabrur sebagai Puncak Ma’rifat.”
Ustaz Dedi mengawali pembahasan dengan mengingatkan kembali Hadis Jibril yang menceritakan kedatangan Malaikat Jibril dalam wujud seorang laki-laki berpakaian bersih, berwajah tampan, dan berambut rapi. Dalam hadis tersebut, Jibril bertanya kepada Nabi Muhammad SAW tentang Islam, iman, dan ihsan. Menurutnya, ibadah haji merupakan penyempurna perjalanan seorang muslim setelah melaksanakan syahadat, shalat, puasa, dan zakat.
| Baca juga: Kedamaian Dimulai dari Menjaga Lisan |
Ia menjelaskan bahwa seluruh ibadah dalam Islam tidak hanya memiliki dimensi lahiriah, tetapi juga makna batiniah yang mendalam. Salah satunya adalah zakat yang sering kali dipahami sebagai bentuk bantuan kepada orang yang membutuhkan. Padahal, menurutnya, hakikat zakat adalah sarana penyucian diri dan harta bagi orang yang menunaikannya. "Ketika kita berzakat, sesungguhnya kitalah yang membutuhkan zakat itu untuk membersihkan jiwa dan harta kita. Jangan sampai muncul perasaan lebih tinggi dari orang yang menerima zakat," ujarnya.
Lebih lanjut, Ustaz Dedi menegaskan bahwa seseorang yang telah menunaikan ibadah haji seharusnya mampu menyelami makna setiap rangkaian ibadah yang dijalani. Haji bukan hanya perjalanan fisik menuju Tanah Suci, melainkan proses transformasi diri agar kembali ke tanah air dengan kepribadian yang lebih baik, lebih rendah hati, dan semakin dekat kepada Allah SWT.
Dalam kesempatan tersebut, ia juga mengulas sejarah Ka'bah yang menjadi pusat ibadah umat Islam. Menurutnya, Ka'bah merupakan rumah ibadah pertama yang dibangun di muka bumi sejak masa Nabi Adam AS. Setelah mengalami kerusakan akibat banjir besar pada masa Nabi Nuh AS, Ka'bah kemudian ditinggikan kembali oleh Nabi Ibrahim AS bersama putranya, Nabi Ismail AS. Ketika Nabi Muhammad SAW berhasil membersihkan Ka'bah dari berhala-berhala kaum Quraisy, bangunan suci itu kembali kepada fungsi asalnya sebagai pusat tauhid.
Ustaz Dedi kemudian mengisahkan salah satu pesan penting Rasulullah SAW setelah pelaksanaan Haji Wada'. Setelah meninggalkan Makkah dan tiba di Ghadir Khum, Rasulullah kembali memberikan nasihat kepada umatnya. Dalam hadis yang diriwayatkan Imam Muslim, Nabi menyampaikan bahwa beliau meninggalkan dua perkara penting, salah satunya adalah Kitabullah atau Al-Qur'an yang berisi petunjuk dan cahaya bagi kehidupan manusia.
Menurut Ustaz Dedi, pesan tersebut memiliki makna mendalam bagi para jamaah haji maupun umat Islam secara umum. Orang yang telah berhaji semestinya menjadi pribadi yang lebih Qurani dibanding sebelumnya. Tidak hanya rajin membaca Al-Qur'an, tetapi juga mengamalkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dalam kehidupan sehari-hari. Rasulullah SAW sendiri menjadi teladan nyata karena seluruh ajaran Al-Qur'an tercermin dalam perilaku dan kehidupannya.
Melalui kajian ini, Ustaz Dedi mengajak umat Islam untuk memahami bahwa puncak ma'rifat dalam ibadah haji bukan terletak pada gelar atau status sosial setelah pulang dari Tanah Suci. Puncak ma'rifat adalah ketika seseorang semakin tunduk kepada Allah, semakin mencintai Al-Qur'an, serta mampu menghadirkan akhlak mulia dalam setiap aspek kehidupannya. Dengan demikian, haji mabrur akan benar-benar menjadi jalan menuju kedekatan dengan Allah SWT dan kebermanfaatan bagi sesama manusia. (Mey)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....