Active Listening Kunci Komunikasi Hangat Orangtua dan Anak
- 07 Mei 2026 06:47 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang - Di tengah derasnya arus informasi dan distraksi digital, membangun komunikasi yang hangat antara orangtua dan anak menjadi tantangan tersendiri. Kesibukan, penggunaan gawai, hingga rutinitas harian kerap membuat interaksi hanya berlangsung singkat dan bersifat formal.
Padahal, percakapan sederhana ketika anak bercerita tentang kesehariannya memiliki peran penting dalam membangun kedekatan emosional jangka panjang.
Salah satu pendekatan yang dinilai efektif adalah active listening atau mendengarkan secara aktif. Metode ini tidak sekadar mendengar, tetapi juga menuntut kehadiran penuh, pemahaman emosi, serta kemampuan menahan diri untuk tidak langsung menghakimi atau memberi nasihat.
Dilansir dari Medium, active listening dalam pengasuhan menekankan pentingnya observasi, empati, dan kesabaran dalam setiap percakapan dengan anak. Orangtua didorong untuk memperhatikan bahasa verbal maupun nonverbal, serta memberikan ruang bagi anak untuk menyampaikan cerita hingga tuntas.
Pendekatan ini penting karena kebiasaan orangtua yang terlalu cepat memberikan solusi justru dapat membuat anak merasa tidak benar-benar didengar. Akibatnya, anak cenderung enggan terbuka, terutama ketika menghadapi masalah yang lebih besar.
Sebaliknya, ketika orangtua mendengar tanpa menggurui, anak akan merasa dihargai dan dipahami. Kondisi ini mendorong terbentuknya rasa percaya dan keterbukaan, sekaligus memperkuat hubungan emosional dalam keluarga.
Selain itu, komunikasi yang sehat juga berdampak positif pada kesehatan mental anak. Mereka menjadi lebih mampu mengenali, mengekspresikan, dan mengelola emosi secara tepat.
Untuk menerapkan active listening dalam kehidupan sehari-hari, terdapat beberapa langkah yang dapat dilakukan.
Pertama, memberikan perhatian penuh saat anak berbicara dengan mengurangi distraksi seperti ponsel atau televisi.
Kedua, mendengarkan hingga tuntas tanpa memotong pembicaraan, sebagai bentuk penghargaan terhadap cerita anak.
Ketiga, mengulangi inti pembicaraan dengan bahasa sendiri guna memastikan pemahaman.
Keempat, memvalidasi perasaan anak agar mereka merasa emosinya diterima dan dihargai.
Kelima, mengajukan pertanyaan terbuka yang mendorong anak berpikir dan menemukan solusi secara mandiri.
Dengan menerapkan active listening, orangtua tidak hanya membangun komunikasi yang lebih efektif, tetapi juga menciptakan ruang aman bagi anak untuk tumbuh secara emosional. Pendekatan ini menjadi kunci dalam membangun hubungan yang kuat, sehat, dan saling percaya di dalam keluarga.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....