Belajar Ramah di Malang: Kisah Ajak, Mahasiswa Sudan yang Terpikat Etika Komunikasi
- 16 Apr 2026 09:11 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang – Ada pemandangan menarik di studio LPP RRI Malang sore itu. Seorang pemuda asal Sudan bernama Ajak Riak Ajang—atau akrab disapa Ajak—berbagi kisah inspiratif tentang perjalanannya merantau di Indonesia. Mahasiswa Politeknik Negeri Malang (Polinema) ini membawa perspektif unik tentang bagaimana sebuah kata sederhana mampu menjaga kedamaian di sebuah kota.
Datang dari negara yang memiliki lebih dari 64 kelompok etnis, Ajak merasa Indonesia memiliki kemiripan dengan tanah airnya dalam hal keberagaman budaya dan bahasa. Namun, meski memiliki latar belakang demografi yang serupa, ada satu hal yang membuat Ajak jatuh cinta pada Kota Malang: keramahan penduduknya.
Bagi Ajak, Malang bukan sekadar tempat menuntut ilmu, melainkan sebuah laboratorium sosial untuk belajar tentang harmoni. "Masyarakat Kota Malang jauh lebih ramah dibandingkan di kampung halaman saya," ungkapnya dengan antusias, Kamis (16/4/2026).
Dalam diskusi bertajuk "The Effect of Poor Communication" di acara Sore Ceria RRI Malang, Ajak menyoroti satu fenomena menarik yang ia amati selama dua tahun tinggal di Indonesia. Ia terkesan dengan kebiasaan warga lokal yang sangat ringan dalam mengucapkan kata "maaf".
"Orang lokal Malang lebih banyak mengucapkan kata maaf ketika melakukan kesalahan, baik disadari atau tidak. Dan itu menurut saya adalah bentuk komunikasi yang sangat baik," jelasnya.
Kebiasaan sederhana ini, menurut Ajak, menjadi kunci mengapa jarang sekali terjadi konflik fisik di Malang. Ia membandingkan pengalamannya dengan situasi di Sudan, di mana setiap orang harus ekstra hati-hati dalam mengenali karakter lawan bicara. Di sana, salah memilih kata atau salah membaca karakter seseorang bisa berujung pada kontak fisik. Namun di Malang, suasana damai justru tercipta dari kerendahan hati untuk saling menghargai.
Hampir dua tahun menetap di Indonesia, Ajak mengaku jarang sekali menemui permasalahan besar yang berujung perkelahian. Hal ini memberinya pelajaran berharga tentang pentingnya menjaga tutur kata.
Ke depannya, Ajak memiliki impian besar. Ia ingin membawa pulang semua ilmu dan pengalaman sosial yang ia dapatkan di Indonesia untuk diterapkan di Sudan. Baginya, membangun komunikasi yang efektif tidak hanya soal bicara, tapi soal membaca situasi.
"Kita harus memperhatikan atmosfer di mana kita berada, mengenali orang-orang di sekeliling kita, dan tentunya tahu posisi kita berada di mana," pungkasnya memberikan tips komunikasi yang bijak.
Kisah Ajak mengingatkan kita kembali bahwa keramahan dan kata maaf yang sering dianggap sepele oleh warga lokal, ternyata merupakan harta karun berharga di mata dunia. (Dwi)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....