BMKG: Fenomena El Nino 2026 Berpotensi Kemarau Lebih Kering
- 14 Apr 2026 10:47 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan potensi kemarau tahun 2026 akan terasa lebih kering dibandingkan biasanya. Hal ini berkaitan dengan peluang munculnya fenomena El Nino yang dapat memperkuat kondisi kekeringan di sejumlah wilayah, termasuk Jawa Timur. Saat ini, kondisi iklim masih berada pada fase netral, namun karakter cuaca mulai menunjukkan kecenderungan lebih panas dan kering.
Ketua Tim Kerja Meteorologi BMKG Juanda, Andrie Wijaya, S.Tr.Met, menjelaskan bahwa El Nino merupakan fenomena pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik yang berdampak pada berkurangnya curah hujan di Indonesia. “El Nino itu fenomena yang berulang, ada levelnya dari lemah, moderat sampai ekstrem. Dampaknya, wilayah Indonesia cenderung mengalami pengurangan hujan sehingga kondisi menjadi lebih kering,” ujarnya kepada RRI Malang pada Selasa (14/4/2026).
Ia menambahkan, meskipun belum terjadi secara pasti, peluang El Nino pada 2026 cukup besar. “Peluangnya sekitar 50 sampai 80 persen, jadi belum pasti, tetapi kemungkinan akan muncul terutama saat puncak musim kemarau sekitar bulan September,” kata Andrie. Saat ini, pengaruh angin monsun Australia juga mulai terasa lebih awal dengan membawa udara kering ke wilayah Jawa Timur.
Dampaknya, musim kemarau di Jawa Timur diprediksi datang lebih cepat dari biasanya. Sejumlah wilayah bahkan telah mulai memasuki kemarau sejak April, khususnya di bagian selatan. Sementara itu, wilayah tengah seperti Malang diperkirakan menyusul pada pertengahan Mei, dengan puncak kemarau terjadi pada Agustus. Kondisi ini membuat udara menjadi lebih kering dan suhu terasa lebih terik.
Menurut Andrie, kemarau yang diperkuat El Nino memiliki karakteristik lebih ekstrem dibandingkan kemarau normal. “Perbedaannya ada pada tingkat kekeringannya. Kelembapan udara jauh lebih rendah, sehingga risiko kebakaran meningkat, paparan sinar UV lebih terasa, dan tanah bisa retak jika tidak ada hujan dalam waktu lama,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama terhadap potensi kebakaran dan gangguan kesehatan. “Masyarakat perlu memantau informasi resmi BMKG, menghindari aktivitas yang memicu kebakaran, serta menjaga kesehatan karena udara kering bisa memicu penyakit kulit, gangguan mata, hingga pernapasan,” tuturnya.
Untuk mengantisipasi dampak tersebut, masyarakat diimbau mulai melakukan langkah sederhana sejak dini. “Di masa pancaroba ini, sebaiknya mulai menampung air hujan, menghemat penggunaan air, serta menjaga lingkungan agar tidak rawan kebakaran. Selain itu, jaga kondisi tubuh dengan asupan vitamin agar tidak mudah sakit,” pungkas Andrie.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....