Gerakan Sawah Bebas Tikus, KKN MAs Kelompok 80 Edukasi Petani Desa Pandanajeng
- 19 Agt 2026 15:59 WIB
- Malang
RRI.CO.ID,Malang — Upaya menjaga produktivitas pertanian terus dilakukan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Muhammadiyah-'Aisyiyah (KKN MAs) Kelompok 80 di Desa Pandanajeng, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang. Salah satunya melalui Gerakan Sawah Bebas Tikus (GSBT) yang dilaksanakan pada Minggu (16/8/2026) pukul 14.00 WIB. Kegiatan diawali dengan sosialisasi kepada petani, kemudian dilanjutkan dengan pengenalan media pengendalian hama tikus serta simulasi penerapannya di area persawahan.
Program GSBT merupakan bentuk kepedulian mahasiswa terhadap persoalan hama tikus yang dapat mengganggu tanaman padi. Aktivitas tikus di area persawahan berpotensi menyebabkan kerusakan tanaman dan memengaruhi hasil panen. Melalui kegiatan ini, mahasiswa mengajak masyarakat memahami pengendalian hama yang tetap memperhatikan keamanan petani, ternak, hewan non-target, serta lingkungan.
Kegiatan tersebut berada di bawah tanggung jawab Malika Kayla Litalia dan A. Aisyah Huzaimah Qalbi SQ. Keduanya turut mengoordinasikan rangkaian sosialisasi agar materi yang disampaikan kepada masyarakat dapat dipahami dengan baik.
Dalam sosialisasi, petani terlebih dahulu diberikan pemahaman mengenai GSBT, tujuan pengendalian tikus, serta pentingnya mengenali kondisi persawahan. Mahasiswa kemudian memperkenalkan rancangan media pengusir hama yang menggunakan bahan yang mudah diperoleh. Pengenalan tersebut disampaikan sebagai alternatif yang masih perlu memperhatikan keamanan, kondisi lapangan, serta penilaian dari pihak yang berwenang.
Gagasan mengenai pemanfaatan media tersebut berasal dari ide dan pengalaman Muhammad Ilfajrin, anggota KKN MAs Kelompok 80 dari Universitas Muhammadiyah Bima. Pengalaman tersebut menjadi bahan diskusi untuk memperkenalkan alternatif pengendalian hama. Mahasiswa juga menekankan bahwa rancangan tersebut tidak boleh dianggap sebagai pengganti otomatis metode pengendalian yang telah terbukti dan sesuai ketentuan.
Setelah sosialisasi, mahasiswa bersama masyarakat melakukan simulasi implementasi di sawah. Dalam rancangan kegiatan, titik penempatan media diperkenalkan dengan jarak sekitar 2,5 meter antartitik. Penerapan tetap harus mempertimbangkan kondisi persawahan dan keamanan lingkungan.
Aspek keselamatan menjadi bagian penting dalam kegiatan tersebut. Masyarakat diingatkan agar tidak menyentuh campuran secara langsung, menggunakan sarung tangan ketika menangani bahan, serta menjauhkan media dari anak-anak, ternak, hewan peliharaan, dan sumber makanan. Mahasiswa menegaskan agar rancangan tidak dicampurkan dengan rodentisida komersial atau bahan kimia lainnya.
Pak Edi, selaku Kepala Dusun yang turut mengikuti sosialisasi dan implementasi GSBT, menyambut baik kegiatan tersebut. Ia menilai kehadiran mahasiswa memberikan tambahan pengetahuan bagi masyarakat, khususnya petani yang berhadapan langsung dengan persoalan hama tikus.
“Menurut saya, kegiatan seperti ini baik karena petani mendapatkan pengetahuan tambahan mengenai pengendalian tikus. Harapannya, sosialisasi ini tidak berhenti pada satu kegiatan saja, tetapi terus dilanjutkan kepada kelompok tani sehingga manfaatnya dirasakan lebih luas,” ujar Pak Edi.
Salah seorang petani Desa Pandanajeng juga menyampaikan bahwa persoalan tikus perlu mendapatkan perhatian dalam pengelolaan sawah. Sosialisasi GSBT dinilai memberikan ruang bagi petani untuk berdiskusi dan memahami pilihan pengendalian hama. Petani berharap kegiatan dapat dilanjutkan dengan pendampingan agar masyarakat semakin memahami metode yang aman dan sesuai dengan kondisi sawah.
Sementara itu, Koordinator Desa KKN MAs Kelompok 80, Pradipta Kanahaya M.K., mengatakan bahwa GSBT tidak hanya diarahkan untuk merespons persoalan hama, tetapi juga membangun kesadaran masyarakat mengenai pentingnya keberlanjutan lingkungan pertanian.
“Harapan kami, kegiatan ini tidak berhenti pada sosialisasi hari ini. Kami ingin pengetahuan yang sudah diberikan dapat diteruskan kepada masyarakat dan kelompok tani lainnya. Mahasiswa hadir bukan hanya untuk melaksanakan program kerja, tetapi juga belajar bersama masyarakat dan mencari solusi terhadap persoalan yang mereka hadapi,” jelas Pradipta.
Pradipta menambahkan, sosialisasi GSBT akan terus dikembangkan dan tidak berakhir pada kegiatan ini. Ke depan, mahasiswa KKN MAs Kelompok 80 akan melanjutkan sosialisasi kepada kelompok-kelompok tani di empat dusun Desa Pandanajeng. Langkah tersebut diharapkan memperluas edukasi dan kerja sama antara mahasiswa, pemerintah dusun, dan petani.
Melalui GSBT, KKN MAs Kelompok 80 berharap terbangun kerja sama dalam menjaga produktivitas persawahan. Pengendalian tikus diharapkan dilakukan secara bijak dengan mengutamakan keselamatan manusia, ternak, hewan non-target, serta kelestarian lingkungan. Kegiatan ini menjadi ruang belajar dan bertukar pengalaman dalam menghadapi persoalan pertanian.
KKN MAs Kelompok 80 juga menyampaikan terima kasih kepada Panitia Pusat dan Panitia Lokal KKN MAs 2026, Konsorsium LPPM PTMA, serta Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah atas dukungan dan kepercayaan yang diberikan selama pelaksanaan kegiatan. Dukungan tersebut diharapkan terus menjadi penguat bagi mahasiswa untuk menghadirkan program yang bermanfaat, membangun kolaborasi dengan masyarakat, dan memberikan kontribusi bagi desa.
Dengan keberlanjutan sosialisasi di empat dusun, Gerakan Sawah Bebas Tikus diharapkan dapat berkembang menjadi gerakan bersama masyarakat Desa Pandanajeng dalam menjaga sawah, hasil panen, dan keberlanjutan pertanian desa.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....