Membangun Kemandirian Anak Berpuasa sejak Dini

  • 06 Mar 2026 07:22 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang - Ramadan menjadi momentum penting bagi orang tua untuk melatih kemandirian anak, termasuk dalam menjalankan ibadah puasa. Namun dalam praktiknya, tidak sedikit orang tua yang masih ragu atau merasa kasihan ketika anak mulai mengeluh lapar dan lemas. Padahal, proses belajar berpuasa bukan sekadar menahan haus dan lapar, tetapi juga membentuk karakter sabar, disiplin, dan tanggung jawab sejak usia dini.

Wahyu Hariani, IRT, wirausaha, sekaligus pendamping disabilitas netra dari Komunitas Pejuang Mimpi, menilai ada satu kesalahan umum yang kerap dilakukan orang tua. “Kesalahan yang paling sering terjadi adalah orang tua kurang tega. Karena sayang, karena tidak ingin anak capek atau lapar, akhirnya anak dibiarkan tidak puasa sama sekali,” ujarnya. Menurutnya, rasa tidak tega justru bisa menghambat proses pembentukan kemandirian anak.

Ia menegaskan bahwa kemandirian tidak akan tumbuh tanpa latihan. “Puasa memang berat di awal, tapi kalau sejak kecil anak sudah dibiasakan, insyaAllah akan menjadi karakter. Jadi bukan soal tega atau tidak tega, tapi bagaimana orang tua tetap penuh kasih, namun juga tegas dan konsisten,” jelasnya pada Selasa (3/3/2026). Sikap seimbang antara cinta dan ketegasan inilah yang menjadi kunci dalam mendidik anak.

Bagi orang tua yang merasa gagal karena anak belum mampu berpuasa penuh, Wahyu mengingatkan agar tidak berkecil hati. “Jangan merasa gagal. Semua anak punya waktunya masing-masing,” katanya. Ia menyarankan metode bertahap, mulai dari puasa hingga pukul 10 pagi, lalu meningkat sampai Dhuhur, Ashar, hingga akhirnya mampu bertahan sampai Maghrib. Proses bertahap ini membantu anak beradaptasi secara fisik maupun mental.

Selain latihan bertahap, apresiasi juga penting diberikan. “Beri apresiasi. Anak-anak itu senang dihargai. Tidak harus hadiah mahal, yang penting ada bentuk perhatian. Misalnya setelah 10 hari puasa penuh, boleh diberi hadiah kecil atau pengalaman menyenangkan,” ungkapnya. Menurut Wahyu, penghargaan sederhana bisa menumbuhkan rasa bangga dan motivasi dalam diri anak untuk terus belajar konsisten.

Di akhir perbincangan, Wahyu berpesan khusus kepada para orang tua di Malang Raya agar menjadikan Ramadhan sebagai sarana membangun karakter anak. “Tetap semangat mendidik anak-anaknya. Jangan terlalu memaksakan, tapi juga jangan terlalu membiarkan. Seimbang antara kasih sayang dan ketegasan,” pesannya. Ia juga mendorong orang tua untuk melibatkan anak dalam kegiatan ibadah dan persiapan berbuka atau sahur. “Ramadan bukan hanya soal ibadah pribadi, tapi juga membangun karakter anak: mandiri, tangguh, dan punya empati,” pungkasnya.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....