Arsitek Penjaga Karakter Kota Malang Berkelanjutan
- 23 Feb 2026 18:31 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang - Di tengah laju pembangunan yang semakin cepat, wajah Kota Malang terus berubah. Gedung - gedung baru bermunculan, kawasan berkembang, dan kebutuhan ruang meningkat seiring pertumbuhan ekonomi serta populasi.
Namun di balik dinamika tersebut, Ir. Budi Fathony, MTA atau akrab disapa Meneer, selaku pengamat arsitektur perkotaan dan juga purna tugas dosen arsitektur ITN Malang menyampaikan aspirasinya dengan memunculkan satu pertanyaan penting yaitu bagaimana Malang bisa berkembang tanpa kehilangan jiwanya?.
Bagi para arsitek, tantangan ini bukan sekadar persoalan desain, melainkan tanggung jawab peradaban. Setiap insan harus berpikir untuk membaca Jiwa Kota, bukan sekadar lahan. Malang bukan kota tanpa cerita. Ia tumbuh dari sejarah panjang masa kolonial, memiliki kampung-kampung tematik yang kreatif, serta identitas kuat sebagai kota pendidikan.
Setiap tapak menyimpan narasi sosial dan budaya. Arsitek dituntut untuk memahami konteks ini bisa melalui responsif membaca perilaku warganya, memahami pola interaksi, serta menangkap ruh kota, semua itu dilakukan sebelum menggambar garis pertama dalam rancangan.
Meneer juga menyampaikan bahwa bangunan yang baik bukan hanya menjawab fungsi, tetapi menyatu dengan kehidupan di sekitarnya. Salah satu yang ia soroti yaitu mengenai heritage adalah aset, bukan hambatan. Ia menyampaikan, seperti kawasan Kayutangan, Ijen, dan kampung - kampung lama bukanlah penghalang modernisasi.
"Di sanalah letak potensi ekonomi kreatif dan pariwisata berkelanjutan sesungguhnya. Desain baru seharusnya berdialog dengan yang lama, menghadirkan harmoni antara masa lalu dan masa depan," jelasnya, Senin (23/2/2026).

Meneer yang khas dengan edukasi tata kota ini juga mengingatkan bahwa modern itu bukan menghapus warisan, yang tentunya berarti memutus identitas. Merawat identitas berarti menguatkan daya saing kota.
"Untuk itu, Malang harus adaptif terhadap Iklim dan Lingkungan. Kota yang dikenal dulu akan sejuk hawanya, kini menghadapi tantangan urban heat, banjir lokal, dan kepadatan ruang," terang Meneer.
Di sinilah peran arsitektur tropis kontekstual menjadi sangat relevan. Ventilasi alami, ruang hijau, sistem resapan air, serta penggunaan material lokal ramah lingkungan bukan sekadar pilihan estetika, melainkan kebutuhan ekologis. Arsitektur yang peka iklim bukan hanya menghemat energi, tetapi juga menjaga kualitas hidup generasi mendatang.
Ia menegaskan kota untuk manusia, bukan kendaraan. Skala manusia menurutnya adalah fondasi kota yang harusnya nyaman. Trotoar yang layak, ruang publik yang inklusif, dan bangunan yang ramah pejalan kaki akan menciptakan interaksi sosial yang sehat.
"Kota bukan sekadar jaringan jalan dan beton, kabel yang semakin rimbun dan padat bukan pohonnya. Tata kota harusnya sarat akan ruang hidup bersama," jelasnya.

Ketika manusia menjadi pusat perancangan, kota akan terasa lebih hangat dan berdaya. Pemerhati Malang ini juga menggambarkan keberadaan kampung juga sebagai Laboratorium Inovasi. Wajah sejati Malang justru banyak ditemukan di kampung - kampungnya.
Di sanalah kreativitas tumbuh, solidaritas terbangun, dan ekonomi lokal bergerak. Arsitek memiliki peluang besar untuk terlibat dalam penataan kampung tematik, perbaikan hunian layak, pengembangan ruang komunal, hingga penguatan ekonomi berbasis ruang.
Inovasi tidak selalu lahir dari proyek besar, seringkali ia tumbuh dari ruang sederhana yang dimaknai bersama. Kota dengan bangunan ikonik saat ini memang menarik perhatian, tetapi tanpa fungsi sosial yang kuat, kota hanya akan menjadi monumen ego.
"Arsitektur terbaik adalah yang memberi manfaat nyata, yang dipakai, dirawat, dan dicintai masyarakatnya," imbuh Meneer.

Meneer dengan nada optimis menyampaikan harapnnya mengenai keindahan sejati yang terletak pada kebermanfaatan. Kolaborasi adalah Kunci, ia menegaskan Kembali bahwa membangun kota tidak bisa dilakukan sendirian. Arsitek perlu bersinergi dengan perencana kota, sejarawan, sosiolog, komunitas warga, dan pemerintah. Kota yang baik lahir dari dialog multidisiplin, bukan dominasi satu profesi.
Kolaborasi melahirkan keputusan yang lebih bijak dan berkelanjutan. Persatuan akan menjawab pertanyaan masa depan. Untuk itu disetiap rancangan, penting bagi arsitek untuk bertanya, apakah karya ini memperkuat jati diri Malang, atau justru akan menghapusnya?.
"Malang dapat berkembang menjadi kota modern tanpa kehilangan karakter," tegasnya.
Kuncinya terletak pada sensitivitas desain, keberanian menjaga nilai, dan komitmen pada keberlanjutan. Karena sejatinya, arsitek bukan hanya pembuat bangunan, melainkan penjaga karakter dan peradaban kota.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....